SALAH satu indikator keberhasilan pendidikan secara mikro di tataran pembelajaran level kelas adalah tatkala seorang guru mampu membangun motivasi belajar para siswanya. Jika siswa-siswa itu dapat ditumbuhkan motivasi belajarnya, maka sesulit apapun materi pelajaran atau proses pembelajaran yang diikutinya niscaya mereka akan menjalaninya dengan "enjoy" dan "pede".
Tulisan ini mencoba mengangkat apa itu motivasi, belajar, dan pentingnya motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran.
A. Pengertian Motivasi
Banyak pakar yang merumuskan definisi motivasi sesuai dengan kajian yang diperdalamnya. Rumusannya beraneka ragam, sesuai dengan sudut pandang dan kajian perspektif bidang telaahnya. Namun demikian, ragam definisi tersebut memiliki ciri dan kesamaan. Di bawah ini dideskripsikan beberapa kutipan pengertian 'motivasi'.
Michel J. Jucius (Onong Uchjana Effendy, 1993: 69-70) menyebutkan 'motivasi' sebagai "kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki". Menurut Dadi Permadi (2000: 72) 'motivasi' adalah "dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, baik yang positif maupun yang negatif". Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (2004: 64-65), apa saja yang diperbuat manusia, yang penting maupun kurang penting, yang berbahaya maupun yang tidak mengandung resiko, selalu ada motivasinya. Ini berarti, apapun tindakan yang dilakukan seseorang selalu ada motif tertentu sebagai dorongan ia melakukan tindakannya itu. Jadi, setiap kegiatan yang dilakukan individu selalu ada motivasinya.
Lantas, Nasution (2002: 58), membedakan antara 'motif' dan 'motivasi'. Motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, sedangkan motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi, sehingga orang itu mau atau ingin melakukannya.
Berdasarkan deskripsi di atas, 'motivasi' dapat dirumuskan sebagai sesuatu kekuatan atau energi yang menggerakkan tingkah laku seseorang untuk beraktivitas.
Motivasi dapat diklasifikasikan menjadi dua: (1) motivasi intrinsik, yaitu motivasi internal yang timbul dari dalam diri pribadi seseorang itu sendiri, seperti sistem nilai yang dianut, harapan, minat, cita-cita, dan aspek lain yang secara internal melekat pada seseorang; dan (2) motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi eksternal yang muncul dari luar diri pribadi seseorang, seperti kondisi lingkungan kelas-sekolah, adanya ganjaran berupa hadiah (reward) bahkan karena merasa takut oleh hukuman (punishment) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi)
B. Pengertian Belajar
Banyak definisi yang diberikan tentang 'belajar'. Misalnya Gage (1984), mengartikan 'belajar' sebagai suatu proses dimana organisma berubah perilakunya. Cronbach mendefinisikan belajar: "learning is shown by a change in behavior as a result of experience." (Belajar ditunjukkan oleh suatu perubahan dalam perilaku individu sebagai hasil pengalamannya). Harold Spears mengatakan bahwa: learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction" (belajar adalah untuk mengamati, membaca, meniru, mencoba sendiri sesuatu, mendengarkan, mengikuti arahan). Adapun Geoch, menegaskan bahwa: "learning is a change in performance as result of practice." (Belajar adalah suatu perubahan di dalam unjuk kerja sebagai hasil praktik).
Kemudian, menurut Ratna Willis Dahar (1988: 25-26), "belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman". Paling sedikit ada lima macam perilaku perubahan pengalaman dan dianggap sebagai faktor-faktor penyebab dasar dalam belajar:
Pertama, pada tingkat emosional yang paling primitif, terjadi perubahan perilaku diakibatkan dari perpasangan suatu stimulus tak terkondisi dengan suatu stimulus terkondisi. Sebagai suatu fungsi pengalaman, stimulus terkondisi itu pada suatu waktu memeroleh kemampuan untuk mengeluarkan respons terkondisi. Bentuk semacam ini disebut responden, dan menolong kita untuk memahami bagaimana para siswa menyenangi atau tidak menyenangi sekolah atau bidang-bidang studi.
Kedua, belajar kontiguitas, yaitu bagaimana dua peristiwa dipasangkan satu dengan yang lain pada suatu waktu, dan hal ini banyak kali kita alami. Kita melihat bagaimana asosiasi ini dapat menyebabkan belajar dari 'drill' dan belajar stereotipe-stereotipe.
Ketiga, kita belajar bahwa konsekuensi-konsekuensi perilaku memengaruhi apakah perilaku itu akan diulangi atau tidak, dan berapa besar pengulangan itu. Belajar semacam ini disebut belajar operant.
Keempat, pengalaman belajar sebagai hasil observasi manusia dan kejadian-kejadian. Kita belajar dari model-model dan masing-masing kita mungkin menjadi suatu model bagi orang lain dalam belajar observasional.
Kelima, belajar kognitif terjadi dalam kepala kita, bila kita melihat dan memahami peristiwa-peristiwa di sekitar kita, dan dengan insight, belajar menyelami pengertian.
Akhirnya, Depdiknas (2003) mendefinisikan 'belajar' sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain.
Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa. Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru. Hal ini terbukti, yakni hasil ulangan para siswa berbeda-beda padahal mendapat pengajaran yang sama, dari guru yang sama, dan pada saat yang sama. Mengingat belajar adalah kegiatan aktif siswa, yaitu membangun pemahaman, maka partisipasi guru jangan sampai merebut otoritas atau hak siswa dalam membangun gagasannya.
Dengan kata lain, partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman itu adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, bukan guru. Misal, bila siswa bertanya tentang sesuatu, maka pertanyaan itu harus selalu dikembalikan dulu kepada siswa itu atau siswa lain, sebelum guru memberikan bantuan untuk menjawabnya. Seorang siswa bertanya, "Pak/Bu, apakah tumbuhan punya perasaan?" Guru yang baik akan mengajukan balik pertanyaan itu kepada siswa lain sampai tidak ada seorang pun siswa dapat menjawabnya. Guru kemudian berkata, "Saya sendiri tidak tahu, tetapi bagaimana jika kita melakukan percobaan?”
Jadi, berdasarkan deskripsi di atas, 'belajar' dapat dirumuskan sebagai proses siswa membangun gagasan/pemahaman sendiri untuk berbuat, berpikir, berinteraksi sendiri secara lancar dan termotivasi tanpa hambatan guru; baik melalui pengalaman mental, pengalaman fisik, maupun pengalaman sosial.
C. Pentingnya Motivasi Belajar Siswa
Dalam kegiatan pembelajaran, 'perhatian' berperan amat penting sebagai langkah awal yang akan memacu aktivitas-aktivitas berikutnya. Dengan 'perhatian', seseorang berupaya memusatkan pikiran, perasaan emosional atau segi fisik dan unsur psikisnya kepada sesuatu yang menjadi tumpuan perhatiannya.
Gage dan Berliner (1984) mengungkapkan, tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar. Jadi, seseorang siswa yang menaruh minat terhadap materi pelajaran, biasanya perhatiannya akan lebih intensif dan kemudian timbul motivasi dalam dirinya untuk mempelajari materi pelajaran tersebut.
Di sini, motivasi belajar dapat didefinisikan sebagai usaha-usaha seseorang (siswa) untuk menyediakan segala daya (kondisi-kondisi) untuk belajar sehingga ia mau atau ingin melakukan proses pembelajaran.
Dengan demikian, motivasi belajar dapat berasal dari diri pribadi siswa itu sendiri (motivasi intrinsik/motivasi internal) dan/atau berasal dari luar diri pribadi siswa (motivasi ekstrinsik/motivasi eksternal). Kedua jenis motivasi ini jalin-menjalin atau kait mengait menjadi satu membentuk satu sistem motivasi yang menggerakkan siswa untuk belajar.
Jelaslah sudah pentingnya motivasi belajar bagi siswa. Ibarat seseorang menjalani hidup dan kehidupannya, tanpa dilandasi motivasi maka hanya kehampaanlah yang diterimanya dari hari ke hari. Tapi dengan adanya motivasi yang tumbuh kuat dalam diri seseorang maka hal itu akan merupakan modal penggerak utama dalam melakoni dunia ini hingga nyawa seseorang berhenti berdetak. Begitu pula dengan siswa, selama ia menjadi pembelajar selama itu pula membutuhkan motivasi belajar guna keberhasilan proses pembelajarannya.
29 Agustus 2008
25 Agustus 2008
Seabad Mohammad Natsir, Mengenang Sosok Da'i Negarawan yang Tangguh
Mengenang Alm. Mohammad Natsir tepat tanggal 17 Juli 2008 mencapai usia satu abad. Ia tidak hanya dikenal sebagai politisi, Perdana Menteri, Menteri Penerangan, Politisi ulung, sekaligus ulama di dunia Islam. Beliau sangat konsisten dalam memperjuangkan keutuhan bangsa, mengenalkan posisi Indonesia di mata internasional sampai sikap politik yang berprinsip kepada penegakan kebenaran dan keadilan. Sehingga langkah-langkahnya berseberangan dengan Presiden Soekarno sampai mendekam di penjara beberapa tahun karena beliau ingin menyelamatkan bangsa dari pengaruh komunisme dan demokrasi terpimpin yang tidak sehat.
Mohammad Natsir lahir di kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatra Barat, 17 Juli 1908. Ayahnya Idris Sutan Saripado adalahpegawai juru tulis kontrolir dikampungnya. Beliau lahir dari seorang wanita salihah, Khadijah. Natsir dibesarkan dalam suasana keserdehanaan dan dilingkungan yang taat beribadah. Semangat mengaji terus tumbuh mulai kecil, walau Natsir sendiri mengenyam pendidikan barat, ghirah dalam menuntut ilmu agama tiada pernah lekang dan terus ingin mendalami Islam. Pendidikannya dimulai di HIS (Holland Inlandische School) Adabiyah, Padang kemudian pindah di HIS Solok, disanalah ia menghabiskan waktu menuntut ilmu. Pagi hari di HIS, sore di Madrasah Diniyah dan malam hari mengaji ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab.
Tamat dari HIS, Natsir melanjutkan pendidikannya di MULO (SMP) (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Padang, dan di MULO-lah awal ia aktif berorganisasi di Jong Islamieten Bond (JIB) atau Perkumpulan Pemuda Islam cabang Sumatra Barat bersama Sanoesi Pane. Organisasi ini awalnya bergerak menentang para misionaris kristen sehingga JIB banyak melakukan konterpropaganda supaya aktivitas mereka tidak meresakan umat Islam di wilayah Sumatra Utara.
Natsir selalu haus ilmu, sehingga tamat dari MULO keinginan melanjutkan studi berlanjut. Ia mendapat beasiswa studi di AMS (Algemere Middlebare School) A-II setingkat SMA di Bandung karena kecerdasan intelektualnya. Di Bandung ia berkenalan dengan tokoh-tokoh ternama seperti H. Agus Salim dari Syarekat Islam dan Ahmad Soorkaty yang mendirikan organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyah. Dua tokoh itulah yang berpengaruh besar dalam karir dakwah Natsir, disamping ada inspirator lain seperti Haji Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna, dan Imam Hasan Al-Hudhaibi.
Natsir merupakan organisator dan negarawan ulung. Karir politiknya mencuat setelah bergabung dengan organisasi Persatuan Islam (Persis) setelah banyak bergaul dan belajar dengan A. Hasan selaku aktivis Persis. Banyak pihak kagum atas kiprah, semangat juang, da'i yang tidak pernah lelah untuk menyerukan kalimatullah di muka bumi, baik di Indonesia maupun di dunia Islam. Natsir dan rekan seperjuangannya terus membela Islam, memperjuangkan dasar negara berdasarkan sistem Islam, karena negara tidak bisa dipisahkan dengan agama, beliau sangat anti sekularisme. Penentangan dari pihak-pihak yang menghina Islam, para kaum misionaris dan Yahudi serta lawan-lawan poltiknya selalu diatasi dengan tegas, bijak dan berwibawa.
Mohammad Natsir sangat dihormati oleh dunia Islam, ia adalah ulama, da'i militan yang tidak pernah menyerah dengan lawan, selalu membela kebenaran. Seperti yang pernah ia lakukan terhadap masalah Palestina, berkiprah di kancah internasional, dan ia selalu sederhana dalam bernampilan.
Mengenang seabad Mohammad Natsir, tidak akan lepas dari kiprah beliau yang banyak bergelut di berbagai organisasi dengan jabatan strategis. Berikut ini beberapa jabatan yang pernah diamanahkan kepada sosok da'i dan sekaligus negarawan ulung, Mohammad Natsir:
1. Ketua Jong Islamieten Bond, Bandung.
2. Mendirikan dan mengetuai Yayasan Pendidikan Islam di Bandung.
3. Direktur Pendidikan Islam, Bandung.
4. Menerbitkan majalah Pembela Islam, dalam melawan propaganda misionaris Kristen, antek-antek penjajah dan kaki tangan asing.
5. Anggota Dewan Kabupaten Bandung.
6. Kepala Biro Pendidikan Kota Madya (Bandung Shiyakusho).
7. Memimpin Majelis Al Islam A'la Indunisiya (MIAI).
8. Menjadi pimpinan Direktorat Pendidikan, di Jakarta.
9. Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta.
10. Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
11. Anggota MPRS.
12. Pendiri dan pemimpin partai MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia). Dalam pemilu 1955, yang dianggap pemilu paling demokratis sepanjang sejarah bangsa, Masyumi meraih suara 21% (Masyumi memperoleh 58 kursi, sama besarnya dengan PNI. Sementara NU memperoleh 47 kursi dan PKI 39 kursi). Capaian suara Masyumi itu belum disamai, apalagi terlampaui, oleh partai Islam setelahnya, hingga saat ini.
13. Menentang pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Belanda dan mengajukan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dikenal dengan Mosi Integrasi Natsir. Akhirnya RIS dibubarkan dan seluruh wilayah Nusantara kecuali Irian Barat kembali ke dalam NKRI dengan Muhammad Natsir menjadi Perdana Menteri-nya. Penyelamat NKRI, demikian presiden Soekarno menjuluki Natsir.
14. Menteri Penerangan Republik Indonesia.
15. Perdana Menteri pertama Republik Indonesia.
16. Anggota Parlemen. Penentang utama sekulerisasi negara, pidatonya "Pilih Salah Satu dari Dua Jalan; Islam atau Atheis" di hadapan parlemen, memberi pengaruh yang besar bagi anggota parlemen dan masyarakat muslim Indonesia.
17. Anggota Konstituante.
18. Menyatukan kembali Aceh yang saat itu ingin berpisah dari NKRI.
19. Mendirikan dan memimpin Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), yang cabang-cabangnya tersebar ke seluruh Indonesia.
20. Wakil Ketua Muktamar Islam Internasional, di Pakistan.
21. Aktif menemui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina.
22. Anggota Dewan Pendiri Rabithah Alam Islami (World Moslem League), juga pernah menjadi sekjennya. Natsir adalah pemimpin dunia Islam yang amat dihormati—Sekretaris Jenderal Rabitah Alam Islami meminta hadirin berdiri saat pak Natsir memasuki ruang sidang organisasi dunia Islam itu.
23. Anggota Majelis Ala Al-Alamy lil Masajid (Dewan Masjid Sedunia).
24. Presiden The Oxford Centre for Islamic Studies London.
25. Pendiri UII (Universitas Islam Indonesia) bersama Moh. Hatta, Kahar Mudzakkir, Wahid Hasyim, dll. Juga enam perguruan tinggi Islam besar lainnya di Indonesia.
26. Ketika presiden Soeharto kesulitan menuntaskan konforontasi Indonesia-Malaysia (yang dimulai presiden Soekarno), berkat bantuan dan jasa hubungan baik Natsir dengan Perdana Menteri (PM) Tengku Abdul Rahman, Malaysia membuka diri menyelesaikan konfrontasi, dan Letjen TNI Ali Moertopo, Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto, diterima/berunding pejabat Malaysia.
27. Berkat jasa hubungan baik Natsir dengan PM Fukuda juga, pemerintah Jepang bersedia membantu Indonesia setelah perekonomian negara ambruk di masa Orde Lama dan setelah pemberontakan G 30 S/PKI.
28. Karena jasa baik dan pengaruh ketokohan DR. Muuhammad Natsir pula, Presiden Soeharto diterima di negara-negara Timur Tengah dan Dunia Islam. Natsir adalah anak bangsa Indonesia yang pernah menjadi tokoh Dunia Islam yang begitu dihormati sepanjang sejarah Indonesia—bahkan sampai sekarang. (www.penamuslim.com)
Disamping mahir berorganisasi sehingga menjadi negarawan ulung, beliau adalah seorang pendidik sehingga menjabat dalam berbagai posisi strategis. Mohammad Natsir sangat cinta kepada Islam. Ia adalah seorang da'i yang mendidik umat, memperhatikan kemaslahatan dan terus mengabdikan dirinya dijalan dakwah. Disamping itu, ia seorang cendekiawan yang intelektualnya ditasbihkan dalam tulisan. Mulai berdakwah lewat Majalah Pembela Islam, Majalah Pandji Islam dan banyak berkarya dalam dunia perbukuan untuk selalu mewariskan tsaqafah-nya. Hampir semua buku yang ia tulis berbahasa Arab yang bernuansa Islami. Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian pada dinul Islam sebagai agama penyempurna dan paripurna.
Karya-karya Mohammad Natsir antara lain: Fiqhud Da'wah (Fikih Dakwah), Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih Salah Satu dari Dua Jalan), Shaum (Puasa), Capita Selecta I, II, dan III, Dari Masa ke Masa, Agama dalam Perspektif Islam dan masih banyak lagi. (Dikutip dari buku "Mereka Yang Telah Pergi" karya Abdullah Al-'Aqil dan Majalah Al-Mujtama' Edisi 3).
Perjalanan hidup Mantan Perdana Mentri RI terus berlawanan dengan pihak yang tidak senang dengan pandangan politik dan kebijaksanaannya. Walaupun ia sangat mati-matian memperjuangkan nasib dan kepentingan umat, bangsa dan negara. Sebagai contoh ia terkenal dengan Mosi Integral yang menyatukan keutuhan NKRI, kiprah di dunia pendidikan juga dengan getol ia lakukan dengan mendirikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Islam. Dunia mengakuinya, namun di negerinya sendiri mulai dari rejim Soekarno dan Soeharto telah memandang sebelah mata. Ia beberapa kali masuk penjara, berjuang diputan-hutan dan sampai dilarang pergi keluar negeri oleh pemerintahan Soeharto karena ketokohannya yang sangat disegani dan dihormati di kancah perpolitikan Islam.
Kini Mohammad Natsir telah wafat. Namun semangat juang untuk meneggakan kalimatullah, bertauhid, selalu membahana dihati orang-orang yang mencintainya sebagai penerus perjuangan dakwah ini. Mohammad Natsir, dikenal dengan keserdehanaan hidup, kecerdasan intelektul, piawai dalam berpidato yang sangat menyentuh, organisator handal, kerja keras pantang menyerah dalam berdakwah, tauhidnya yang lurus menjadikan dirinya menjadi tokoh Nasional yang diakui dunia dan terus mengabdi demi kepentingan umat.
Mohammad Natsir lahir di kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatra Barat, 17 Juli 1908. Ayahnya Idris Sutan Saripado adalahpegawai juru tulis kontrolir dikampungnya. Beliau lahir dari seorang wanita salihah, Khadijah. Natsir dibesarkan dalam suasana keserdehanaan dan dilingkungan yang taat beribadah. Semangat mengaji terus tumbuh mulai kecil, walau Natsir sendiri mengenyam pendidikan barat, ghirah dalam menuntut ilmu agama tiada pernah lekang dan terus ingin mendalami Islam. Pendidikannya dimulai di HIS (Holland Inlandische School) Adabiyah, Padang kemudian pindah di HIS Solok, disanalah ia menghabiskan waktu menuntut ilmu. Pagi hari di HIS, sore di Madrasah Diniyah dan malam hari mengaji ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab.
Tamat dari HIS, Natsir melanjutkan pendidikannya di MULO (SMP) (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Padang, dan di MULO-lah awal ia aktif berorganisasi di Jong Islamieten Bond (JIB) atau Perkumpulan Pemuda Islam cabang Sumatra Barat bersama Sanoesi Pane. Organisasi ini awalnya bergerak menentang para misionaris kristen sehingga JIB banyak melakukan konterpropaganda supaya aktivitas mereka tidak meresakan umat Islam di wilayah Sumatra Utara.
Natsir selalu haus ilmu, sehingga tamat dari MULO keinginan melanjutkan studi berlanjut. Ia mendapat beasiswa studi di AMS (Algemere Middlebare School) A-II setingkat SMA di Bandung karena kecerdasan intelektualnya. Di Bandung ia berkenalan dengan tokoh-tokoh ternama seperti H. Agus Salim dari Syarekat Islam dan Ahmad Soorkaty yang mendirikan organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyah. Dua tokoh itulah yang berpengaruh besar dalam karir dakwah Natsir, disamping ada inspirator lain seperti Haji Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna, dan Imam Hasan Al-Hudhaibi.
Natsir merupakan organisator dan negarawan ulung. Karir politiknya mencuat setelah bergabung dengan organisasi Persatuan Islam (Persis) setelah banyak bergaul dan belajar dengan A. Hasan selaku aktivis Persis. Banyak pihak kagum atas kiprah, semangat juang, da'i yang tidak pernah lelah untuk menyerukan kalimatullah di muka bumi, baik di Indonesia maupun di dunia Islam. Natsir dan rekan seperjuangannya terus membela Islam, memperjuangkan dasar negara berdasarkan sistem Islam, karena negara tidak bisa dipisahkan dengan agama, beliau sangat anti sekularisme. Penentangan dari pihak-pihak yang menghina Islam, para kaum misionaris dan Yahudi serta lawan-lawan poltiknya selalu diatasi dengan tegas, bijak dan berwibawa.
Mohammad Natsir sangat dihormati oleh dunia Islam, ia adalah ulama, da'i militan yang tidak pernah menyerah dengan lawan, selalu membela kebenaran. Seperti yang pernah ia lakukan terhadap masalah Palestina, berkiprah di kancah internasional, dan ia selalu sederhana dalam bernampilan.
Mengenang seabad Mohammad Natsir, tidak akan lepas dari kiprah beliau yang banyak bergelut di berbagai organisasi dengan jabatan strategis. Berikut ini beberapa jabatan yang pernah diamanahkan kepada sosok da'i dan sekaligus negarawan ulung, Mohammad Natsir:
1. Ketua Jong Islamieten Bond, Bandung.
2. Mendirikan dan mengetuai Yayasan Pendidikan Islam di Bandung.
3. Direktur Pendidikan Islam, Bandung.
4. Menerbitkan majalah Pembela Islam, dalam melawan propaganda misionaris Kristen, antek-antek penjajah dan kaki tangan asing.
5. Anggota Dewan Kabupaten Bandung.
6. Kepala Biro Pendidikan Kota Madya (Bandung Shiyakusho).
7. Memimpin Majelis Al Islam A'la Indunisiya (MIAI).
8. Menjadi pimpinan Direktorat Pendidikan, di Jakarta.
9. Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta.
10. Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
11. Anggota MPRS.
12. Pendiri dan pemimpin partai MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia). Dalam pemilu 1955, yang dianggap pemilu paling demokratis sepanjang sejarah bangsa, Masyumi meraih suara 21% (Masyumi memperoleh 58 kursi, sama besarnya dengan PNI. Sementara NU memperoleh 47 kursi dan PKI 39 kursi). Capaian suara Masyumi itu belum disamai, apalagi terlampaui, oleh partai Islam setelahnya, hingga saat ini.
13. Menentang pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Belanda dan mengajukan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dikenal dengan Mosi Integrasi Natsir. Akhirnya RIS dibubarkan dan seluruh wilayah Nusantara kecuali Irian Barat kembali ke dalam NKRI dengan Muhammad Natsir menjadi Perdana Menteri-nya. Penyelamat NKRI, demikian presiden Soekarno menjuluki Natsir.
14. Menteri Penerangan Republik Indonesia.
15. Perdana Menteri pertama Republik Indonesia.
16. Anggota Parlemen. Penentang utama sekulerisasi negara, pidatonya "Pilih Salah Satu dari Dua Jalan; Islam atau Atheis" di hadapan parlemen, memberi pengaruh yang besar bagi anggota parlemen dan masyarakat muslim Indonesia.
17. Anggota Konstituante.
18. Menyatukan kembali Aceh yang saat itu ingin berpisah dari NKRI.
19. Mendirikan dan memimpin Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), yang cabang-cabangnya tersebar ke seluruh Indonesia.
20. Wakil Ketua Muktamar Islam Internasional, di Pakistan.
21. Aktif menemui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina.
22. Anggota Dewan Pendiri Rabithah Alam Islami (World Moslem League), juga pernah menjadi sekjennya. Natsir adalah pemimpin dunia Islam yang amat dihormati—Sekretaris Jenderal Rabitah Alam Islami meminta hadirin berdiri saat pak Natsir memasuki ruang sidang organisasi dunia Islam itu.
23. Anggota Majelis Ala Al-Alamy lil Masajid (Dewan Masjid Sedunia).
24. Presiden The Oxford Centre for Islamic Studies London.
25. Pendiri UII (Universitas Islam Indonesia) bersama Moh. Hatta, Kahar Mudzakkir, Wahid Hasyim, dll. Juga enam perguruan tinggi Islam besar lainnya di Indonesia.
26. Ketika presiden Soeharto kesulitan menuntaskan konforontasi Indonesia-Malaysia (yang dimulai presiden Soekarno), berkat bantuan dan jasa hubungan baik Natsir dengan Perdana Menteri (PM) Tengku Abdul Rahman, Malaysia membuka diri menyelesaikan konfrontasi, dan Letjen TNI Ali Moertopo, Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto, diterima/berunding pejabat Malaysia.
27. Berkat jasa hubungan baik Natsir dengan PM Fukuda juga, pemerintah Jepang bersedia membantu Indonesia setelah perekonomian negara ambruk di masa Orde Lama dan setelah pemberontakan G 30 S/PKI.
28. Karena jasa baik dan pengaruh ketokohan DR. Muuhammad Natsir pula, Presiden Soeharto diterima di negara-negara Timur Tengah dan Dunia Islam. Natsir adalah anak bangsa Indonesia yang pernah menjadi tokoh Dunia Islam yang begitu dihormati sepanjang sejarah Indonesia—bahkan sampai sekarang. (www.penamuslim.com)
Disamping mahir berorganisasi sehingga menjadi negarawan ulung, beliau adalah seorang pendidik sehingga menjabat dalam berbagai posisi strategis. Mohammad Natsir sangat cinta kepada Islam. Ia adalah seorang da'i yang mendidik umat, memperhatikan kemaslahatan dan terus mengabdikan dirinya dijalan dakwah. Disamping itu, ia seorang cendekiawan yang intelektualnya ditasbihkan dalam tulisan. Mulai berdakwah lewat Majalah Pembela Islam, Majalah Pandji Islam dan banyak berkarya dalam dunia perbukuan untuk selalu mewariskan tsaqafah-nya. Hampir semua buku yang ia tulis berbahasa Arab yang bernuansa Islami. Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian pada dinul Islam sebagai agama penyempurna dan paripurna.
Karya-karya Mohammad Natsir antara lain: Fiqhud Da'wah (Fikih Dakwah), Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih Salah Satu dari Dua Jalan), Shaum (Puasa), Capita Selecta I, II, dan III, Dari Masa ke Masa, Agama dalam Perspektif Islam dan masih banyak lagi. (Dikutip dari buku "Mereka Yang Telah Pergi" karya Abdullah Al-'Aqil dan Majalah Al-Mujtama' Edisi 3).
Perjalanan hidup Mantan Perdana Mentri RI terus berlawanan dengan pihak yang tidak senang dengan pandangan politik dan kebijaksanaannya. Walaupun ia sangat mati-matian memperjuangkan nasib dan kepentingan umat, bangsa dan negara. Sebagai contoh ia terkenal dengan Mosi Integral yang menyatukan keutuhan NKRI, kiprah di dunia pendidikan juga dengan getol ia lakukan dengan mendirikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Islam. Dunia mengakuinya, namun di negerinya sendiri mulai dari rejim Soekarno dan Soeharto telah memandang sebelah mata. Ia beberapa kali masuk penjara, berjuang diputan-hutan dan sampai dilarang pergi keluar negeri oleh pemerintahan Soeharto karena ketokohannya yang sangat disegani dan dihormati di kancah perpolitikan Islam.
Kini Mohammad Natsir telah wafat. Namun semangat juang untuk meneggakan kalimatullah, bertauhid, selalu membahana dihati orang-orang yang mencintainya sebagai penerus perjuangan dakwah ini. Mohammad Natsir, dikenal dengan keserdehanaan hidup, kecerdasan intelektul, piawai dalam berpidato yang sangat menyentuh, organisator handal, kerja keras pantang menyerah dalam berdakwah, tauhidnya yang lurus menjadikan dirinya menjadi tokoh Nasional yang diakui dunia dan terus mengabdi demi kepentingan umat.
Motivasi
Rahasia motivasi merupakan dambaan bagi pemimpin yang berusaha melipatgandakan pengaruhnya dalam pengambilan keputusan dan bisnis. Istilah motivasi menjadi sangat penting untuk dipahami agar segala sesuatu yang telah direncanakan dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi orang lain. Setiap tindakan seseorang akan dipengaruhi oleh harapan yang ada dalam dirinya. Hanya sedikit para pemimpin dan manajer profesional yang meragukan pentingnya motivasi dalam mengarahkan dan mencapai keberhasilan. Motivasi menjadi bahan kajian yang menarik dalam berbagai pelatihan dan lokakarya pengembangan yang diselenggarakan ditingkat lokal, nasional dan internasional. Banyak konsultan yang mengkhususkan dirinya dalam mengembangkan model pengembangan kepribadian, manajemen dan SDM dilandasi oleh kerangka teori motivasi.
Dalam pemberdayaan masyarakat, kemampuan mempengaruhi dan membangun motivasi kerja menjadi perekat yang cukup efektif untuk mengenal perilaku, kebiasaan, pola tindak dan interaksi kelompok. Penyadaran individu atau kelompok untuk melakukan tindakan dan upaya pengembangan diri sangat dipengaruhi oleh dorongan yang muncul secara internal maupun pengaruh yang datang dari luar. Kedua hal ini akan menentukan bentuk perlakukan terhadap kelompok agar secara mandiri melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan dan harapannya. Motivasi diibaratkan seperti energi pendorong yang membantu masyarakat untuk melakukan tindakan untuk mencapai tujuan secara optimal dan penuh kesadaran.
Hasil riset secara konsisten memperlihatkan bahwa motivasi sangat berpengaruh pada kinerja dan prestasi individu dan organisasi. Teori motivasi dan berbagai kasus dalam praktek kepemimpinan dan bisnis memperlihatkan hubungan yang sangat nyata terhadap kebutuhan, dinamika kerja dan tingkat kepuasan.
Demikian halnya dalam kegiatan fasilitasi, pemahaman tentang konsep motivasi yang sangat membantu dalam menentukan bentuk kegiatan, komunikasi dan strategi yang akan digunakan agar masyarakat terdorong untuk belajar sesuai dengan harapannya.
Apa Motivasi itu ?
Abraham Sperling (1987) mengemukakan bahwa motivasi didefinisikan sebagai suatu kecenderungan untuk beraktivitas yang dimulai dari dalam diri (drive) yang diakhiri dengan proses penyesuaian diri untuk memuaskan motif. Filmore Stanford (1969) mendefinisikan motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakkan manusia ke arah tujuan tertentu. William J. Stanton (1981) menjelaskan motivasi merupakan kebutuhan yang distimulasi berorientasi kepada tujuan individu dalam mencapai kepuasan. A.A Prabu Mangkunegara (2000) menyimpulkan bahwa motif merupakan dorongan kebutuhan dalam diri seseorang agar dapat menyesuikan diri dengan lingkungannya, sedangkan motivasi adalah kondisi yang menggerakkan seseorang untuk mencapai tujuan itu. Pandangan ini sejalan dengan Baron et.al., (1980) dan McCommick (1985) yang menjelaskan bahwa motivasi merupakan kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan.
Maslow; Hirarki Kebutuhan
Dalam tahun 1950-an seorang psikolog terkemuka Amerika, Abraham Maslow melakukan penelitian terhadap patologi untuk memahami sifat-sifat dasar manusia. Maslow menyimpulkan hasil penelitiannya dalam bentuk hirarki kebutuhan manusia. Teori ini sangat terkenal dan berpengaruh dalam lingkungan bisnis dan merambah dalam aspek sosial lainnya. Model ini menyatakan bahwa kebutuhan manusia yang paling dasar adalah makanan dan air yang pemenuhannya terus berkembang hingga sampai pada taraf tertinggi yaitu aktualisasi diri.
Tingkatan tertinggi dari hirarki kebutuhan Maslow yaitu aktualisasi diri yang muncul ketika kedua kebutuhan akan penghargaan itu terpenuhi dan individu tidak lagi didorong oleh kebutuhan untuk membuktikan diri sendiri, baik kepada dirinya maupun kepada orang lain. Kebutuhan yang berhubungan dengan orang yang mengaktualisasikan diri adalah kebutuhan akan makna dan tujuan hidup dirinya. Mereka berharap agar pekerjaan, aktivitas, dan keberadaan dirinya memiliki nilai dan memberikan kontribusi kepada orang lain. Hubungannya dengan motivasi, orang akan berusaha untuk terlibat dalam berbagai aktivitas untuk membantu memenuhi kebutuhannya. Mungkin mereka hanya menyadari sebagian dari proses ini berkembang secara alamiah, akan tetapi dalam sistem motivasi disesuaikan dengan tingkat (level) kebutuhan yang akan dimotivasi. Pekerjaan lain seperti, mempersatukan orang dalam komunitas kerja, promosi, dan upah berjenjang memiliki kesamaan dalam memberikan dukungan terhadap kebutuhan dasar. Motivator normal yang digunakan dalam bekerja, diganjar dalam bentuk uang, sejalan untuk bertahan hidup, kebutuhan untuk memiliki, dan kebutuhan penghargaan.
Kebutuhan selanjutnya mulai diarahkan dalam masyarakat modern dalam bentuk kebutuhan akan harga diri. Metode bisnis dan manajemen tradisional sangat kurang untuk dapat memenuhi kebutuhan itu (Whithmore, 2000). Krisis ekonomi mutakhir berakibat terjadinya pengurangan jumlah tenaga kerja, ketidakamanan pekerjaan, upah yang rendah dan meningkatnya harga kebutuhan dasar, telah membawa masyarakat turun dari hirarki itu. Oleh karenanya, spektrum kebutuhan yang predominan menjadi lebih luas, yang lebih sulit banyak kegiatan usaha yang tidak mampu lagi menyediakan ganjaran yang sesuai dengan standar hidup tertentu, Jadi bagaimana suatu usaha akan memotivasi orang-orang untuk bekerja lebih baik?. Pembangunan sektor ekonomi dan publik harus terus memenuhi kebutuhan dasar, sementara membuat perubahan fundamental yang terjadi sebagai konsekuensi dari upaya meningkatkan kinerja akan menimbulkan harapan dan kebutuhan lain yang lebih tinggi dari orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Pekerjaan memenuhi kebutuhan dasar orang dengan memberikan penghasilan atau bantuan kepada orang lain, sehingga mereka mampu menyediakan makanan, minuman, pakaian dan rumah untuk tempat tinggal. Secara rinci hirarki kebutuhan diuraikan sebagai berikut;
• Kebutuhan fisiologi berupa makan, minum perlindungan fisik, bernafas, dan seksual. Kebutuhan ini, tingkat terendah atau disebut kebutuhan dasar.
• Kebutuhan rasa aman berupa perlindungan dari ancaman, bahaya, konflik dan lingkungan hidup.
• Kebutusan rasa memiliki yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai.
• Kebutuhan akan harga diri yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain.
• Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, berupa pengakuan terhadap kapasitas pengetahuan, keterampilan dan potensi yang dimilikinya. Kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide, gagasan, penilaian dan kritik terhadap sesuatu.
Menurut Maslow orang dewasa secara normal memuaskan kira-kira 85% kebutuhan fisiologis, 70% kebutuhan rasa aman, 50% kebutuhan untuk memiliki dan mencintai, 40% kebutuhan harga diri serta 10% dari kebutuhan aktualisasi diri. Studi motivasi yang cukup terkenal dilakukan oleh David McClelland (1961) menjelaskan tiga bentuk kebutuhan manusia, yaitu:
• Need for Achievment, yaitu kebutuhan untuk berprestasi sebagai refleksi dari dorongan akan tanggung jawab untuk memecahkan masalah. Seseorang yang memiliki kebutuhan berprestasi tinggi cenderung untuk bertindak dan mengambil keputusan dengan penuh resiko. Kebutuhan berprestasi merupakan dorongan untuk melakukan tindakan atau pekerjaan lebih baik daripada sebelumnya dan selalu berkeinginan mencapai prestasi yang lebih tinggi.
• Need for Affiliation, yaitu dorongan untuk berafiliasi atau berinteraksi dengan orang lain. Tidak mau melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain.
• Need for Power yaitu dorongan untuk berkuasa sebagai refleksi dari keinginan untuk mencapai otoritas dan memiliki pengaruh terhadap orang lain.
Studi lain yang berkaitan dengan motivasi dikembangkan oleh Alderfer (McCormick, 1985) yaitu teori ERG (Existance, Relatedness, Growth). Teori ini menjelaskan tiga kebutuhan dasar, yaitu;
• Existance needs. Kebutuhan yang berkaitan dengan fisik manusia, yaitu, makan, minum, pakaian, bernafas, rumah, keamanan dan kondisi kerja.
• Relatedness needs. Kebutuhan interpersonal dalam bentuk kepuasan dalam berinteraksi dengan lingkungan kerja.
• Growth needs. Kebutuhan untuk mengembangkan dan meningkatkan pribadi. Hal ini berkaitan dengan kemampuan dan kecapakan seseorang dalam bekerja.
Beberapa alasan yang dikemukakan tentang dua teori ini, bahwa konsep ERG kurang menekankan pada susunan hirarki. Seseorang dapat memuaskan lebih dari satu kebutuhan dalam waktu yang bersamaan. Kepuasan terhadap suatu kebutuhan dapat menggambarkan peningkatan terhadap kebutuhan yang lebih tinggi. Perubahan orientasi merupakan kegagalan dari kebutuhan yang lebih tinggi dapat menunjukkan regresi dengan penambahan pada tingkat kebutuhan yang lebih rendah.
Prinsip-Prinsip Motivasi
Memotivasi masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan dan berupaya memecahkan masalah akan berkaitan dengan kemampuan, perhatian, dan kesiapan untuk melakukan tindakan yang diperlukan. Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam memotivasi masyarakat.
1. Prinsip partisipasi, yaitu upaya sistematis untuk mempengaruhi stakeholder untuk terlibat dalam pengambilan keputusan dan menentukan tujuan yang akan dicapai oleh organisasi. Partisipasi menjadi salah satu prinsip penting dalam upaya mendorong pertumbuhan suatu komunitas dan penguatan jaringan kerja. Prinsip ini akan mendekatkan dua atu lebih pihak yang terlibat untuk menyepakati tugas, pembagian peran, distribusi sumber dan rencana aksi yang akan dilaksanakan secara bersama. Motivasi akan terwujud dalam bentuk partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, kepemimpinan, penyelesaian konflik, analisis tugas dan pembentukan tim.
2. Prinsip komunikasi, yaitu upaya mempengaruhi melalui simbol, bahasa dan media yang sesuai untuk menjelaskan gagasan penting yang berhubungan dengan tugas dan informasi yang dibutuhkan.
3. Prinsip pengakuan, yaitu fasilitator atau orang yang ditunjuk menjadi mediator mengakui peran, usaha dan kontribusi masyarakat dalam mengelola kegiatan pemberdayaan. Pengakuan yang diberikan akan mendorong masyarakat untuk bekerja dan bertindak secara sukarela dan penuh tanggung jawab.
4. Prinsip pendelegasian wewenang. Prinsip ini berkaitan dengan pembagian peran antara pimpinan, tokoh atau pemuka masyarakat, petani, pedagang, organisasi perempuan, dan pemerintah lokal. Bentuk pembagian peran diberikan dalam bentuk batas otoritas kepada masing-masing stakeholder sesuai dengan fungsi dan kemampuannya. Fasilitator sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan terhadap suatu pekerjaan yang sulit dilakukan oleh kelompok. Atau sebaliknya, memberikan kesempatan yang cukup bagi kelompok dampingan untuk mengambil keputusan terhadap kesepakatan yang dibuatnya sendiri, hal ini akan membuat yang bersangkutan termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan bersama.
5. Prinsip memberi perhatian. Prinsip ini biasanya dilakukan oleh fasilitator untuk memotivasi kepada kelompok dampingan agar meningkatkan prestasi dan pencapaian terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Perhatian yang diberikan dapat dilakukan fasilitator dengan cara memberikan reward terhadap orang atau kelompok yang mencapai tingkat tertinggi dari persyaratan tertentu.
Teknik Motivasi
Beberapa teknik yang dapat digunakan oleh fasilitator atau pendamping lapangan
dalam memotivasi kelompok sebagai berikut;
Teknik Pemenuhan Kebutuhan
Pemenuhan kebutuhan masyarakat dampingan merupakan aspek pokok yang mendasari perilaku dan kinerja. Anda tidak mungkin memotivasi kelompok tanpa memperhatikan apa yang dibutuhkannya. Upaya memenuhi kebutuhan bukan menjadi tanggungjawab penuh dari Anda sebagai fasilitator atau pendamping tetapi mempertemukan apa yang menjadi prioritas dikaitkan dengan potensi dan sumber daya yang tersedia. Anda harus jeli dalam mengidentifikasi kebutuhan yang diungkapkan oleh masyarakat, kebutuhan itu secara umum digambarkan oleh Maslow. Paling tidak kebutuhan dasar masyarakat diupayakan dipenuhi, Jika tidak Anda akan mengalami hambatan dan konflik internal antarpelaku atau kelompok.
Berikut ini beberapa panduan yang dapat digunakan dalam menggunakan teknik pemenuhan kebutuhan.
• Identifikasi secara mendalam tentang permasalahan dan kebutuhan yang menjadi prioritas masyarakat untuk dipenuhi. Pada saat melakukan identifikasi gunakan indikator atau alat telusur yang memudahkan masyarakat untuk mendefinisikannya.
• Identifikasi pula peluang kedepan dan sumber daya yang dimiliki oleh kelompok untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
• Tetapkan beberapa aspek utama yang perlu mendapat perhatian bersama dengan memilih alternatif dan tujuan yang realistis dapat dicapai. Keterbatasan kapasitas dan sumber daya kelompok menjadi aspek yang perlu dipertimbangkan.
• Pastikan seluruh peserta memahami dan menyadari tanggung jawab untuk mencapai tujuan dan harapan yang telah ditetapkan. Pemenuhan kebutuhan diletakkan berdasarkan tujuan dan jangka waktu pemenuhan.
• Susun langkah-langkah taktis dan strategis tentang rencana dan kebutuhan apa saja yang dapat dicapai dan yang akan diupayakan pada masa yang akan datang.
Teknik Komunikasi Persuasif
Komunikasi persuasif merupakan cara yang banyak dilakukan oleh pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya atau mendongkrak kinerja tim. Cara ini cukup efektif untuk mempengaruhi persepsi dan tindakan orang untuk mencapai harapan dan tujuan bersama. Namun cara ini membutuhkan gaya dan kepribadian yang unik untuk mengkomunikasikan dan mempengaruhi perasaan seseorang. Kemampuan analisis dan berbicara secara sistematis saja tidak cukup untuk memotivasi orang lain, tetapi perlu melibatkan kematangan emosional (EQ) dalam mengungkapkannya. Komunikasi persuasif biasanya dikembangkan untuk membangun kebersamaan, minat, rasa saling memiliki dan tanggung jawab kolektif. Kecenderungan kepuasan dan dorongan yang muncul sangat dipengaruhi oleh kepribadian seorang komunikator.
Fasilitasi dan Motif Berprestasi
Mempengaruhi dan mendorong masyarakat merupakan pekerjaan yang mensyaratkan tingkat keterampilan, kredibilitas dan penerimaan yang memadai. McClelland (1961) dalam teori motivasinya mengemukakan bahwa produktifitas seseorang sangat ditentukan oleh virus mental yang ada dalam dirinya. Virus mental adalah kondisi jiwa yang mendorong seseorang untuk mencapai prestasi secara maksimal. Salah satu virus mental itu ialah kebutuhan berprestasi (Need for Achievement). Virus ini sangat penting dibina dan dikelola oleh para pemimpin, manajer, pelatih dan fasilitator dengan cara mengembangkan potensi melalui lingkungan kerja oragnisasi yang efektif mewujudkan produktivitas dan kualitas yang tinggi.
Motif berprestasi merupakan suatu dorongan yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan tindakan atau tugas sebaik-baiknya agar mencapai prestasi dengan predikat terpuji. McClelland (1961) mengemukakan karekeristik yaitu;
• Memiliki tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi.
• Berani mengambil dan memikul resiko.
• Memiliki tujuan yang realistik.
• Memiliki rencana kerja yang jelas dan menyeluruh serta berupaya untuk merealisasikan tujuan.
• Memanfaatkan umpan balik yang konkret dalam semua kegiatan yang dilakukan.
• Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogramkan.
Merujuk pada pandangan McClelland karakteristik seorang fasilitator yang memiliki motivasi berprestasi antara lain;
• Memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi.
• Mencintai tugas dan selalu meningkatkan wawasan, keterampilan dan sikap.
• Memiliki program kerja berdasarkan tujuan dan rencana yang realistik serta berupaya keras untuk mencapainya.
• Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dan berani mengambil resiko.
• Melakukan pekerjaan yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat binaan dan menyelesaikannya dengan hasil yang memuaskan.
• Memiliki keinginan menjadi orang yang menguasai dibidang tertentu.
• Memiliki kemampuan mengkomunikasikan dengan masyarakat agar mau terlibat dan mencapai tujuan secara bersama.
Berdasarkan hasil penelitian McClelland (1961), Murray (1957), Miller dan Gordon (1970) menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang berarti antara motivasi berprestasi dengan pencapaian prestasi. Artinya, seorang pemimpin, manajer, trainer atau fasilitator mempunyai motif berprestasi tinggi cenderung memiliki kinerja yang tinggi, dan sebaliknya bagi yang berprestasi kerja rendah dimungkinkan kinerja yang dihasikannya rendah. Terdapat beberapa faktor yang sangat mempengaruhi motivasi dan pencapaian prestasi, yaitu tingkat kecerdasan (IQ) dan kepribadian. Orang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi, jika memiliki kecerdasan yang memadai dan ditunjang oleh kepribadian yang matang akan mampu mencapai prestasi yang maksimal. Hal ini dapat dijelaskan bahwa IQ merupakan potensi yang dimiliki seseorang dan kepribadian merupakan kemampuan untuk mengintegrasikan fungsi psikofisik yang sangat menentukan dirinya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
Dalam pemberdayaan masyarakat, kemampuan mempengaruhi dan membangun motivasi kerja menjadi perekat yang cukup efektif untuk mengenal perilaku, kebiasaan, pola tindak dan interaksi kelompok. Penyadaran individu atau kelompok untuk melakukan tindakan dan upaya pengembangan diri sangat dipengaruhi oleh dorongan yang muncul secara internal maupun pengaruh yang datang dari luar. Kedua hal ini akan menentukan bentuk perlakukan terhadap kelompok agar secara mandiri melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan dan harapannya. Motivasi diibaratkan seperti energi pendorong yang membantu masyarakat untuk melakukan tindakan untuk mencapai tujuan secara optimal dan penuh kesadaran.
Hasil riset secara konsisten memperlihatkan bahwa motivasi sangat berpengaruh pada kinerja dan prestasi individu dan organisasi. Teori motivasi dan berbagai kasus dalam praktek kepemimpinan dan bisnis memperlihatkan hubungan yang sangat nyata terhadap kebutuhan, dinamika kerja dan tingkat kepuasan.
Demikian halnya dalam kegiatan fasilitasi, pemahaman tentang konsep motivasi yang sangat membantu dalam menentukan bentuk kegiatan, komunikasi dan strategi yang akan digunakan agar masyarakat terdorong untuk belajar sesuai dengan harapannya.
Apa Motivasi itu ?
Abraham Sperling (1987) mengemukakan bahwa motivasi didefinisikan sebagai suatu kecenderungan untuk beraktivitas yang dimulai dari dalam diri (drive) yang diakhiri dengan proses penyesuaian diri untuk memuaskan motif. Filmore Stanford (1969) mendefinisikan motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakkan manusia ke arah tujuan tertentu. William J. Stanton (1981) menjelaskan motivasi merupakan kebutuhan yang distimulasi berorientasi kepada tujuan individu dalam mencapai kepuasan. A.A Prabu Mangkunegara (2000) menyimpulkan bahwa motif merupakan dorongan kebutuhan dalam diri seseorang agar dapat menyesuikan diri dengan lingkungannya, sedangkan motivasi adalah kondisi yang menggerakkan seseorang untuk mencapai tujuan itu. Pandangan ini sejalan dengan Baron et.al., (1980) dan McCommick (1985) yang menjelaskan bahwa motivasi merupakan kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan.
Maslow; Hirarki Kebutuhan
Dalam tahun 1950-an seorang psikolog terkemuka Amerika, Abraham Maslow melakukan penelitian terhadap patologi untuk memahami sifat-sifat dasar manusia. Maslow menyimpulkan hasil penelitiannya dalam bentuk hirarki kebutuhan manusia. Teori ini sangat terkenal dan berpengaruh dalam lingkungan bisnis dan merambah dalam aspek sosial lainnya. Model ini menyatakan bahwa kebutuhan manusia yang paling dasar adalah makanan dan air yang pemenuhannya terus berkembang hingga sampai pada taraf tertinggi yaitu aktualisasi diri.
Tingkatan tertinggi dari hirarki kebutuhan Maslow yaitu aktualisasi diri yang muncul ketika kedua kebutuhan akan penghargaan itu terpenuhi dan individu tidak lagi didorong oleh kebutuhan untuk membuktikan diri sendiri, baik kepada dirinya maupun kepada orang lain. Kebutuhan yang berhubungan dengan orang yang mengaktualisasikan diri adalah kebutuhan akan makna dan tujuan hidup dirinya. Mereka berharap agar pekerjaan, aktivitas, dan keberadaan dirinya memiliki nilai dan memberikan kontribusi kepada orang lain. Hubungannya dengan motivasi, orang akan berusaha untuk terlibat dalam berbagai aktivitas untuk membantu memenuhi kebutuhannya. Mungkin mereka hanya menyadari sebagian dari proses ini berkembang secara alamiah, akan tetapi dalam sistem motivasi disesuaikan dengan tingkat (level) kebutuhan yang akan dimotivasi. Pekerjaan lain seperti, mempersatukan orang dalam komunitas kerja, promosi, dan upah berjenjang memiliki kesamaan dalam memberikan dukungan terhadap kebutuhan dasar. Motivator normal yang digunakan dalam bekerja, diganjar dalam bentuk uang, sejalan untuk bertahan hidup, kebutuhan untuk memiliki, dan kebutuhan penghargaan.
Kebutuhan selanjutnya mulai diarahkan dalam masyarakat modern dalam bentuk kebutuhan akan harga diri. Metode bisnis dan manajemen tradisional sangat kurang untuk dapat memenuhi kebutuhan itu (Whithmore, 2000). Krisis ekonomi mutakhir berakibat terjadinya pengurangan jumlah tenaga kerja, ketidakamanan pekerjaan, upah yang rendah dan meningkatnya harga kebutuhan dasar, telah membawa masyarakat turun dari hirarki itu. Oleh karenanya, spektrum kebutuhan yang predominan menjadi lebih luas, yang lebih sulit banyak kegiatan usaha yang tidak mampu lagi menyediakan ganjaran yang sesuai dengan standar hidup tertentu, Jadi bagaimana suatu usaha akan memotivasi orang-orang untuk bekerja lebih baik?. Pembangunan sektor ekonomi dan publik harus terus memenuhi kebutuhan dasar, sementara membuat perubahan fundamental yang terjadi sebagai konsekuensi dari upaya meningkatkan kinerja akan menimbulkan harapan dan kebutuhan lain yang lebih tinggi dari orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Pekerjaan memenuhi kebutuhan dasar orang dengan memberikan penghasilan atau bantuan kepada orang lain, sehingga mereka mampu menyediakan makanan, minuman, pakaian dan rumah untuk tempat tinggal. Secara rinci hirarki kebutuhan diuraikan sebagai berikut;
• Kebutuhan fisiologi berupa makan, minum perlindungan fisik, bernafas, dan seksual. Kebutuhan ini, tingkat terendah atau disebut kebutuhan dasar.
• Kebutuhan rasa aman berupa perlindungan dari ancaman, bahaya, konflik dan lingkungan hidup.
• Kebutusan rasa memiliki yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai.
• Kebutuhan akan harga diri yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain.
• Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, berupa pengakuan terhadap kapasitas pengetahuan, keterampilan dan potensi yang dimilikinya. Kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide, gagasan, penilaian dan kritik terhadap sesuatu.
Menurut Maslow orang dewasa secara normal memuaskan kira-kira 85% kebutuhan fisiologis, 70% kebutuhan rasa aman, 50% kebutuhan untuk memiliki dan mencintai, 40% kebutuhan harga diri serta 10% dari kebutuhan aktualisasi diri. Studi motivasi yang cukup terkenal dilakukan oleh David McClelland (1961) menjelaskan tiga bentuk kebutuhan manusia, yaitu:
• Need for Achievment, yaitu kebutuhan untuk berprestasi sebagai refleksi dari dorongan akan tanggung jawab untuk memecahkan masalah. Seseorang yang memiliki kebutuhan berprestasi tinggi cenderung untuk bertindak dan mengambil keputusan dengan penuh resiko. Kebutuhan berprestasi merupakan dorongan untuk melakukan tindakan atau pekerjaan lebih baik daripada sebelumnya dan selalu berkeinginan mencapai prestasi yang lebih tinggi.
• Need for Affiliation, yaitu dorongan untuk berafiliasi atau berinteraksi dengan orang lain. Tidak mau melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain.
• Need for Power yaitu dorongan untuk berkuasa sebagai refleksi dari keinginan untuk mencapai otoritas dan memiliki pengaruh terhadap orang lain.
Studi lain yang berkaitan dengan motivasi dikembangkan oleh Alderfer (McCormick, 1985) yaitu teori ERG (Existance, Relatedness, Growth). Teori ini menjelaskan tiga kebutuhan dasar, yaitu;
• Existance needs. Kebutuhan yang berkaitan dengan fisik manusia, yaitu, makan, minum, pakaian, bernafas, rumah, keamanan dan kondisi kerja.
• Relatedness needs. Kebutuhan interpersonal dalam bentuk kepuasan dalam berinteraksi dengan lingkungan kerja.
• Growth needs. Kebutuhan untuk mengembangkan dan meningkatkan pribadi. Hal ini berkaitan dengan kemampuan dan kecapakan seseorang dalam bekerja.
Beberapa alasan yang dikemukakan tentang dua teori ini, bahwa konsep ERG kurang menekankan pada susunan hirarki. Seseorang dapat memuaskan lebih dari satu kebutuhan dalam waktu yang bersamaan. Kepuasan terhadap suatu kebutuhan dapat menggambarkan peningkatan terhadap kebutuhan yang lebih tinggi. Perubahan orientasi merupakan kegagalan dari kebutuhan yang lebih tinggi dapat menunjukkan regresi dengan penambahan pada tingkat kebutuhan yang lebih rendah.
Prinsip-Prinsip Motivasi
Memotivasi masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan dan berupaya memecahkan masalah akan berkaitan dengan kemampuan, perhatian, dan kesiapan untuk melakukan tindakan yang diperlukan. Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam memotivasi masyarakat.
1. Prinsip partisipasi, yaitu upaya sistematis untuk mempengaruhi stakeholder untuk terlibat dalam pengambilan keputusan dan menentukan tujuan yang akan dicapai oleh organisasi. Partisipasi menjadi salah satu prinsip penting dalam upaya mendorong pertumbuhan suatu komunitas dan penguatan jaringan kerja. Prinsip ini akan mendekatkan dua atu lebih pihak yang terlibat untuk menyepakati tugas, pembagian peran, distribusi sumber dan rencana aksi yang akan dilaksanakan secara bersama. Motivasi akan terwujud dalam bentuk partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, kepemimpinan, penyelesaian konflik, analisis tugas dan pembentukan tim.
2. Prinsip komunikasi, yaitu upaya mempengaruhi melalui simbol, bahasa dan media yang sesuai untuk menjelaskan gagasan penting yang berhubungan dengan tugas dan informasi yang dibutuhkan.
3. Prinsip pengakuan, yaitu fasilitator atau orang yang ditunjuk menjadi mediator mengakui peran, usaha dan kontribusi masyarakat dalam mengelola kegiatan pemberdayaan. Pengakuan yang diberikan akan mendorong masyarakat untuk bekerja dan bertindak secara sukarela dan penuh tanggung jawab.
4. Prinsip pendelegasian wewenang. Prinsip ini berkaitan dengan pembagian peran antara pimpinan, tokoh atau pemuka masyarakat, petani, pedagang, organisasi perempuan, dan pemerintah lokal. Bentuk pembagian peran diberikan dalam bentuk batas otoritas kepada masing-masing stakeholder sesuai dengan fungsi dan kemampuannya. Fasilitator sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan terhadap suatu pekerjaan yang sulit dilakukan oleh kelompok. Atau sebaliknya, memberikan kesempatan yang cukup bagi kelompok dampingan untuk mengambil keputusan terhadap kesepakatan yang dibuatnya sendiri, hal ini akan membuat yang bersangkutan termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan bersama.
5. Prinsip memberi perhatian. Prinsip ini biasanya dilakukan oleh fasilitator untuk memotivasi kepada kelompok dampingan agar meningkatkan prestasi dan pencapaian terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Perhatian yang diberikan dapat dilakukan fasilitator dengan cara memberikan reward terhadap orang atau kelompok yang mencapai tingkat tertinggi dari persyaratan tertentu.
Teknik Motivasi
Beberapa teknik yang dapat digunakan oleh fasilitator atau pendamping lapangan
dalam memotivasi kelompok sebagai berikut;
Teknik Pemenuhan Kebutuhan
Pemenuhan kebutuhan masyarakat dampingan merupakan aspek pokok yang mendasari perilaku dan kinerja. Anda tidak mungkin memotivasi kelompok tanpa memperhatikan apa yang dibutuhkannya. Upaya memenuhi kebutuhan bukan menjadi tanggungjawab penuh dari Anda sebagai fasilitator atau pendamping tetapi mempertemukan apa yang menjadi prioritas dikaitkan dengan potensi dan sumber daya yang tersedia. Anda harus jeli dalam mengidentifikasi kebutuhan yang diungkapkan oleh masyarakat, kebutuhan itu secara umum digambarkan oleh Maslow. Paling tidak kebutuhan dasar masyarakat diupayakan dipenuhi, Jika tidak Anda akan mengalami hambatan dan konflik internal antarpelaku atau kelompok.
Berikut ini beberapa panduan yang dapat digunakan dalam menggunakan teknik pemenuhan kebutuhan.
• Identifikasi secara mendalam tentang permasalahan dan kebutuhan yang menjadi prioritas masyarakat untuk dipenuhi. Pada saat melakukan identifikasi gunakan indikator atau alat telusur yang memudahkan masyarakat untuk mendefinisikannya.
• Identifikasi pula peluang kedepan dan sumber daya yang dimiliki oleh kelompok untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
• Tetapkan beberapa aspek utama yang perlu mendapat perhatian bersama dengan memilih alternatif dan tujuan yang realistis dapat dicapai. Keterbatasan kapasitas dan sumber daya kelompok menjadi aspek yang perlu dipertimbangkan.
• Pastikan seluruh peserta memahami dan menyadari tanggung jawab untuk mencapai tujuan dan harapan yang telah ditetapkan. Pemenuhan kebutuhan diletakkan berdasarkan tujuan dan jangka waktu pemenuhan.
• Susun langkah-langkah taktis dan strategis tentang rencana dan kebutuhan apa saja yang dapat dicapai dan yang akan diupayakan pada masa yang akan datang.
Teknik Komunikasi Persuasif
Komunikasi persuasif merupakan cara yang banyak dilakukan oleh pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya atau mendongkrak kinerja tim. Cara ini cukup efektif untuk mempengaruhi persepsi dan tindakan orang untuk mencapai harapan dan tujuan bersama. Namun cara ini membutuhkan gaya dan kepribadian yang unik untuk mengkomunikasikan dan mempengaruhi perasaan seseorang. Kemampuan analisis dan berbicara secara sistematis saja tidak cukup untuk memotivasi orang lain, tetapi perlu melibatkan kematangan emosional (EQ) dalam mengungkapkannya. Komunikasi persuasif biasanya dikembangkan untuk membangun kebersamaan, minat, rasa saling memiliki dan tanggung jawab kolektif. Kecenderungan kepuasan dan dorongan yang muncul sangat dipengaruhi oleh kepribadian seorang komunikator.
Fasilitasi dan Motif Berprestasi
Mempengaruhi dan mendorong masyarakat merupakan pekerjaan yang mensyaratkan tingkat keterampilan, kredibilitas dan penerimaan yang memadai. McClelland (1961) dalam teori motivasinya mengemukakan bahwa produktifitas seseorang sangat ditentukan oleh virus mental yang ada dalam dirinya. Virus mental adalah kondisi jiwa yang mendorong seseorang untuk mencapai prestasi secara maksimal. Salah satu virus mental itu ialah kebutuhan berprestasi (Need for Achievement). Virus ini sangat penting dibina dan dikelola oleh para pemimpin, manajer, pelatih dan fasilitator dengan cara mengembangkan potensi melalui lingkungan kerja oragnisasi yang efektif mewujudkan produktivitas dan kualitas yang tinggi.
Motif berprestasi merupakan suatu dorongan yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan tindakan atau tugas sebaik-baiknya agar mencapai prestasi dengan predikat terpuji. McClelland (1961) mengemukakan karekeristik yaitu;
• Memiliki tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi.
• Berani mengambil dan memikul resiko.
• Memiliki tujuan yang realistik.
• Memiliki rencana kerja yang jelas dan menyeluruh serta berupaya untuk merealisasikan tujuan.
• Memanfaatkan umpan balik yang konkret dalam semua kegiatan yang dilakukan.
• Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogramkan.
Merujuk pada pandangan McClelland karakteristik seorang fasilitator yang memiliki motivasi berprestasi antara lain;
• Memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi.
• Mencintai tugas dan selalu meningkatkan wawasan, keterampilan dan sikap.
• Memiliki program kerja berdasarkan tujuan dan rencana yang realistik serta berupaya keras untuk mencapainya.
• Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dan berani mengambil resiko.
• Melakukan pekerjaan yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat binaan dan menyelesaikannya dengan hasil yang memuaskan.
• Memiliki keinginan menjadi orang yang menguasai dibidang tertentu.
• Memiliki kemampuan mengkomunikasikan dengan masyarakat agar mau terlibat dan mencapai tujuan secara bersama.
Berdasarkan hasil penelitian McClelland (1961), Murray (1957), Miller dan Gordon (1970) menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang berarti antara motivasi berprestasi dengan pencapaian prestasi. Artinya, seorang pemimpin, manajer, trainer atau fasilitator mempunyai motif berprestasi tinggi cenderung memiliki kinerja yang tinggi, dan sebaliknya bagi yang berprestasi kerja rendah dimungkinkan kinerja yang dihasikannya rendah. Terdapat beberapa faktor yang sangat mempengaruhi motivasi dan pencapaian prestasi, yaitu tingkat kecerdasan (IQ) dan kepribadian. Orang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi, jika memiliki kecerdasan yang memadai dan ditunjang oleh kepribadian yang matang akan mampu mencapai prestasi yang maksimal. Hal ini dapat dijelaskan bahwa IQ merupakan potensi yang dimiliki seseorang dan kepribadian merupakan kemampuan untuk mengintegrasikan fungsi psikofisik yang sangat menentukan dirinya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
Langganan:
Postingan (Atom)