Tampilkan postingan dengan label taujihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taujihat. Tampilkan semua postingan

21 Januari 2009

GETARAN CAHAYA DI ATMOSFER CINTA

Ikhwahfillah yang dirahmati Allah,
Maha suci Allah yang telah menciptakan dan menghidupkan makhlukNya, sehingga mereka bisa mengenali hakekat mengapa mereka diciptakan, dan bagi yang ingkar, Allah lebih mengetahui dengan apa yang terrjadi. Pujian hanyalah milik Robb pencipta alam semesta, tiada yang layak dipuji didunia ini selain pujian kepada Allah yang selalu jaga tanpa mengenal kantuk dan lelah. kebesaranNya tiada tertandingi walaupun seluruh jin dan manusia berkumpul dan berserikat untuk menandingi kebesaranNya, itu semua tidak lebih dari pasir diantara pasir ditengah pantai.

Ketika membaca judul tulisan ini (ana tidak tahu apakah ini berupa taujih atau tausiyah), ana coba mengajak kita semua untuk mengembarakan imajinasi kita, TAPI INGAT, tetaplah berpikir positif, karena apa yang ingin ana sampaikan tidak ada hubungan dengan cintanya seorang laki-laki kepada perempuan yang bukan mahramnya, begitu juga sebaliknya. Bukan bercerita tentang seseorang yang akan menggenapkan separuh Dinnya (walimah githu lo), tapi hanya mengingatkan kita kepada jamaah kita, dalam hal ini Al Maidan.

Ikhwan dan akhwat ynag selalu istiqomah,
Kita semua yang terlibat langsung maupun tidak langsung didalam dakwah lembaga ini, pasti merasakan sesuatu perasaan yang berbeda ketika kita belum bergabung didalam barisan panjang para mujahid dakwah ini. Berupa perasaan cinta dan merasa kesepian ketika kita tidak bertemu dengan saudara kita. Itulah yang oleh ana sebut dengan Getaran Cahaya di Atmosfer Cinta.

Ketika kita berada dalam lingkungan dakwah, kita merasa tentram, nyaman, dan bahagia walaupun waktu itu kita tidak punya piti alias uang, kita merasa bahwa segala beban yang kita tanggung sendirian ketika kita masih berada dirumah terasa seperti beralih dan dirasakan jua oleh saudara kita dalam lingkungan dakwah itu. Oh betapa gembiranya hati sekiranya kita setiap saat berada dalam lingkungan ini.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Hanzalah bertemu dengan Abu Bakar dan ditanya bagaimana kabarmu ya Hanzalah? Maka Hanzalahpun menjawab”sungguh celaka, Hanzalah sekarang menjadi seorang munafik. Ditanya lagi”apa maksudmu?. Maka jawab Hanzalah”ketika kita berkumpul dengan Rasulullah, kita selalu terbayang dengan kenikmatan surga, tetapi ketika kita pulang dan berkumpul dengan keluarga kita kita terlena dengan dunia dan lupa dengan apa yang diceritakan Rasulullah.”

Ikwahfillah,
Coba kita bayangkan, hanya karena terlupakan dengan cerita Rasulullah saja, seorang sahabat seperti Hanzalah mengatakan dirinya munafik. Itulah getaran cahaya yang telah bersemi dihati kita menjadi atmosfernya cinta. Apakah kita telah merasakan seperti apa yang dirasakan oleh Hanzalah? Perasaan cinta dan sayang ketika kita berkumpul bersama dalam merajut tali ukhuwah ini, dan merasa kesepian atau rindu ketika berpisah dan menyendiri diruang kamar kita nan sepi dirumah ataupun dikos kita? Jika kita telah merasakannya, itulah getaran cahaya yang harus kita pupuk sehingga mengatmosferkan cinta. Jika belum, kembali luruskan niat. Karena keberadaan kita dalam dakwah ini tidak akan terlepas dari hal itu, jika kita niatkan hanya untuk 4JJI.

Tiada kata indah selain kata ukhuwah
Dalam sebuah jalinan persaudaraan islam
Jalinan yang abadi disisi Tuhan
Berawal dari sebuah perkenalan (Ukhuwah, Suara Persaudaraan)

KARAKTERISTIK PEJUANG AQIDAH

Islam adalah Dien para Rosul yang mencakup seluruh sisi kehidupan.Dan Aqidah merupakan bagian terpenting dari Al-Islam. Aqidah adalah ikatan paling kuat yang mengikat antara pejuang dan tujuannya dengan orang-orang sepaham dengannya. Risalah kecil ini menjelaskan karakteristik pejuang Aqidah yang wajib dimiliki bagi pejuang.

Kepribadian Pejuang Aqidah
Aqidah adalah ikatan spiritual yang mengikat seseorang dengan Rabbnya. Ia merupakan ikatan yang kukuh, yang tak tergoyahkan oleh adanya krisis materi atau penindasan manusia. Karena ia merupakan ikatan ruh dengan Haqiqat luhur dan ikatan yang terpatri dengan kemantapan hati dan pancaran pemikiran antara sang pejuang dan da'wahnya. Sungguh keliru orang yang menganggap aliran pemikiran atau ide-ide buatan manusia yang dijadikan falsafah politik dan ekonomi sebagai Aqidah, meski dalam beberapa fenomena dan tujuannya ada yang sama. Aqidah tumbuh dari ruh dan berkembang dari qalbu serta berhubungan dengan sebab-sebab samawi. Karena itu ia bersifat abadi, sebagaimana tampak keabadian Aqidah yang dibawa para Nabi dan Rasul. Dan keabadian ini tidak didapat didalam teori dan pemikiran sosial filosof dan sarjana manapun. Pejuang Aqidah adalah pejuang yang memiliki jiwa pengorbanan, yang hidup untuk al-Haq dan mati dijalan al-Haq baginya seorang pejuang Aqidah, Aqidah adalah segala- galanya. Aqidah adalah thabi'ah bukan ilmu, syu'ur bukan falsafah dan khuluq bukan ide, sebab hatilah yang menangkap pengetahuan samawi dan memancarkan dorongan-dorongan luhur; dorongan kebaikan antara fenomena jiwa Insaniyah. Akal hanyalah gambaran pemikiran yang serba terbatas dan dengan akal semata orang tidak cukup untuk mengeta hui haqiqat luhur. Akal, dalam keterbatasannya itu, akan merasakan kepuasan yang dalam bila dengan Aqidah. Aqidah adalah ikatan paling kuat yang mengikat antara pejuang dan tujuannya dengan orang-orang yang sefaham dengannya. " Tidak ada ikatan yang paling kuat selain ikatan Aqidah dan tidak ada Aqidah yang paling kuat selain Islam," demikian Imam Hasan al-Banna menyatakan.

Islam Aqidah Menyeluruh

Islam adalah dien para Rasul yang mencakup seluruh sisi kehidupan. Barangkali karakter dan tujuan Islam dapat diungkapkan dalam dua kata: tawhid dan wihdah atau iman dan ishlah. Pengertian ini dapat kita tangkap dari sabda Rasulullah SAW ketika beliau ditanya seorang Arab Badawi:
"Tunjukkan aku pada sesuatu didalam Islam yang aku tidak akan menanyakan didalamnya kepada siapapun setelah engkau." Rasulullah SAW bersabda, "Katakan: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamalah".

Islam yang hanif ini datang dengan membawa sistem sosial yang sempurna yang mengatur milik pribadi, kehidupan keluarga, hubungan kemasyarakatan, dasar-dasar kenegaraan, faktor-faktor kesatuan dan politik dunia. Sistem tersebut melahirkan dasar-dasar kerohanian yang sangat bijak, di dalamnya menyatu nilai-nilai luhur dan Kenyataan yang berhubungan erat dengan alam manusia, sehingga dari dasar-dasar teoritis ini beralih menjadi amal harian rutin yang mudah tanpa ada rasa keterpaksaan dan keengganan. Allah berfirman:

"Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni'matNya bagimu supaya kamu bersyukur." (QS. al-Ma'idah: 6)

Islam menegakkan Dawlah ideal yang kukuh dan kuat Daulah Islamiyah ibarat satu bangunan yang kukuh tinggi yang tegak diatas fondasi yang kuat, empat tembok,atap dan pagar. Pondasinya ialah Ma'rifatullah dan Tauhid.

Temboknya yang empat terdiri atas:

1. Ibadah
Terutama shalat sebagai mi'raj seorang Muslim kepada Rabbnya dan merupakan tiang Islam pertama. Dengan shalat manusia dapat berhubungan dengan Rabbnya.Ia adalah perjalanan spiritual yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Ibadah adalah tujuan diciptakan manusia dan sebab eksistensinya. Firman Allah:
"Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadat kepada-Ku" (QS. al-Dzariyat: 56).

2. Ilmu
Islam mendorong manusia supaya menuntut dan mendalami ilmu pengetahuan. Atas dasar ilmu manusia mendapatkan keutamaan dan keistimewaan. Allah berfirman:

"Allah meninggikan orang-orang beriman dari kamu sekalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa dera jat." (QS. al-mujadalah: 11)
Dengan ilmu orang dapat meraih dunia dan akhirat sekaligus sebagaimana dikatakan Imam Syafi'i "Barangsiapa menghendaki dunia, maka ia harus dengan Ilmu dan barangsiapa menghendaki akhirat, maka ia harus dengan ilmu. Dan barangsiapa menghendaki keduanya, maka ia harus dengan ilmu."

3. Ukhuwwah
Ia adalah ikatan yang paling kuat yang mengikat seluruh kaum Mu'minin dan menjaga mereka dari keterpecahbelahan serta menyatukan hati mereka. Dengan ukhuwwah, kaum Mu'minin menjadi seperti bangunan yang tersusun rapih antara satu sama lainnya saling menguatkan. Firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang Mu'min itu bersaudara." ( QS. al-Hujurat: 10)

4. Tasyri'
Tasyri' adalah dasar-dasar yang harus diiltizami ummat dan diikuti manhajnya. Tasyri'lah yang memelihara eksis tensi ummat dan menentukan arah serta meluruskan jalannya. Firman Allah: "Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas satu syari'- at dari urusan (dien) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. al-Jatsiyah: 18) Atap yang menjadikan tembok yang empat ini kukuh ada lah hukum (pemerintahan). Ia adalah kekuatan pelaksana dan pengarah. Di dalam sebuah atsar dikatakan: "Sesungguhnya Allah memberi dengan kekuasaan apa-apa yang tidak diberikan dengan Qur'an." Dalam sebuah hadits dinyatakan: "Ikatan Islam akan terurai satu demi satu, pertamanya dengan menetang hukum (pemerintahan) dan akhirnya (me ninggalkan) shalat." Hasan Bishri berkata: "Jika da'wah ini (kewajiban) bagiku, niscaya ia (juga kewajiban) bagi penguasa. Sebab, Allah memperbaiki ba nyak akhlaq dengan perbaikannya." Sedangkan pagar yang melindungi bangunan Islam adalah Jihad.Ia merupakan penjaga terpercaya yang dapat melin dunginya. Firman Allah: "Diwajibkan atas kamu berperang, padahalberperang itu salah satu yang kamu benci." (QS. al-Baqarah: 216) "Sesungguhnya orang-orang Mu'min itu ialah orang yang beriman dengan Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka ti dak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mere ka dijalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang be- nar." (QS. al-Hujurat:15) Sehubungan dengan hal-hal tersebut imperialis dan an- tek-anteknya berusaha keras meruntuhkan da'wah Islam. *Mereka meruntuhkan Ibadah dengan cara mendirikan dan menggalakkan perjudian, permainan dan kebejatan. *Mereka mencoba meruntuhkan Ilmu dengan cara merusak sistem pendidikan dan pengajaran serta terlalu memen- tingkan kulit dan mengabaikan intinya. *Mereka menghancurkan ukhuwwah dengan cara menumbuhkan partai-partai politik. *Mereka memerangi hukum Islam dengan cara menerapkan undang-undang buatan manusia. Pokoknya kaum imperialis itu memerangi seluruh aspek Islam sampai Islam hanya menjadi acara ritual dimasjid masjid dan dijadikan alat melegimitasi program-program penguasa. Para penguasa kaum Muslimin dewasa ini meren dahkan Islam. Mereka menipu orang-orang awam dan melem par Islam dari kekuatan politik dan perundang-undangan Bahkan ada diantara orang-orang yang disebut sebagai cendekiawan Muslim yang begitu bersemangat meruntuhkan beberapa aspek Islam, seperti dikatakan bahwa Islam ti dak mempunyai konsep tentang masalah- masalah sosial dan lain semacamnya. Begitulah, Islam diperangi dari dalam dari luar. Namun Islam, sebagai kekuatan al-Haq, akan menang sebagaima- na pernah menang terhadap rongrongan Abu Jahal dan Ib- nu Ubay.Islam akan menang menghadapi serbuan musuh dan tipu daya Munafiqin dari dalam. Islam akan kembali se bagai sesuatu yang asing seperti ia pertama kali data- ng. Maka berbahagialah orang-orang yang termasuk Ghuru ba, sebagaimana diisyaratkan Rasulullah SAW dalam ha- ditsnya. Siapa Ghuruba termaksud? ialah para pejuang Aqidah disepanjang masa dan disetiap generasi. Mereka adalah Haqiqat yang senantiasa diperangi para pembela kesesatan dan Nur yang selalu dirongrong para pembela kegelapan. Firman Allah: "Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka"(QS.al-An'am:90)

23 Desember 2008

Mencari Idola Sejati

Mencari idola sejati

Seorang selebriti sedang berjalan disebuah mal. Ketika terlihat oleh seorang anak baru gede (ABG), terjadi keributan dikarenakan ABG tersebut minta tanda tangan dan foto bersama. Ternyata tidak hanya sampai disitu, karena keributan kecil diatas, makin banyak ABG yang menghampiri sang artis tersebut, ada yang minta tanda tangan, foto bareng, ada yang hanya sekedar ingin melihat sang artis.
“artis itu idola saya” itulah jawaban yang diberikan ABG tersebut ketika kita tanyakan mengapa mereka melakukan hal tersebut. Kalau kita Tanya lagi mengapa mengidolakan si dia, jawaban yang akan kita terima adalah karena dia artis, cantik, ganteng, dll, dst, dsb. yang semuanya hanya dilihat dari fisik artis idola tersebut.
Fenomena ini tidak sampai disini saja, ada yang mencontoh sang idolanya, mulai dari cara berpakaian, gaya rambut, sampai gaya hidup. Tidak sedikit yang terjebak barang-barang terlarang dan melakukan sex before married atau seks bebas hanya karena mencontoh sang idola.
Itulah yang banyak terjadi sekarang, tidak hanya di kota, tapi masalah ini sudah sampai di pelosok desa. Bukan hal yang baru lagi jika anak-anak ”ndeso” yang meng imitate selebritis. Hal ini patut kita tanya mengapa sampai terjadi.
Ketika era informasi yang terus berkembang, banyak orang atau lembaga yang mencari keuntungan dengan menjadikan remaja kita sebagai idola. Lihat saja berapa banyak program televise yang mencari “artis” berbakat, instan, dan penuh dengan hal glamour, sebagai contoh Akademi Fantasi Indonesia, Mamamia, Indonesian idol, dan lain-lain yang semua itu meniru program televisi orang luar.
Maka tak heran sekarang remaja hanya berpikir instan untuk mendapatkan keinginan mereka. Mulai dari pakaian, smapai mencari idola. Ironisnya lagi, untuk mencari idola tolak ukur hanya pada warna kulit, bentuk tubuh, dan hal fisik lainnya, tidak lagi memakai pertimbangan akhlak. Remaja kita tidak lagi peduli dengan hal akhlak ini, apa yang dilakukan oleh idolanya maka pasti akan langsung dijiplaknya.
Tidak salah bila kita mengidolakan seseorang, tapi kita juga harus ada tolak ukurnya. Tolak ukur ini kita sebut saja dengan kata seleksi. Bukankah ketika mereka yang kita idolakan melakukan berbagai seleksi? Maka tidak ada salahnya kalau kita seleksi lagi mereka apa layak untuk menjadi idola kita.
1. Apa yang membuat si dia cenderung kita idolakan
Ini peertanyaan seleksi pertama. Jawaban yang akan kita terima pasti hanya seputar ganteng, cantik, kaya, macho, dan lainnya yang sejenis dengan itu.
Apakah dengan hal itu udah cukup menjadikannya sebagai idola? Masih jauh…….
Oke kalau kita tetap ngotot dengan jawaban itu. Ayo kita lihat pertanyaan kedua.

2. Apa dia sudah tepat kita jadikan idola
Muka boleh ganteng, dia boleh cantik dan seksi, doi boleh kaya, punya mobil satu kontainer,rumah seratus tingkat, tapi kalau kelakuannya bejat, tak bermoral, suka memakai barang-barang haram, minumnya harus wisky, bir, makannya harus ganja, shabu, apa itu yang harus kita idolakan?

3. Apa manfaat yang kita dapatkan dengan mengidolakannya
Ini pertanyaan yang kudu kita renungkan. Kita harus mencari idola yang harus membuat hidup kita lebih hidup. Kita tidak rugi kalau kita mengidolannya.

Oke friends. Sudah tahu kan seperti apa orang yang akan kita idolakan? Didunia ini para ahli sudah sepakat untuk memberikan prediket super idol atau idola nomor satu kepada Nabi Muhammad saw. Memang seperti itulah seharusnya kita mencari idola. Allah sendiri berfirman bahwa pada diri Nabi Muhammad terdapat suri tauladan yang baik.
Idola adalah orang yang menjadi tauladan kita, so idola sejati kita sudah seharusnya hanya pada sosok Nabi Muhammad. Masalah akhlaknya tidak perlu lagi kita tanya.

18 Desember 2008

OBSESI

“Barang siapa akhirat menjadi obsesinya, maka Allah melancarkan semua urusannya, hatinya kaya, dan dunia datang dengan tertunduk kepadanya. Dan barang siapa dunia menjadi obsesinya, maka Allah mengacaukan segala urusannya, menjadikannya miskin dan dunia lari darinya (HR. Ibnu Majah)”
Saudaraku,
Allah dengan jelas mengatakan bahwa kebahagiaan akan kita dapati dan kita rasakan ketika obsesi dan tujuan kita hanya Kepada kampung akhirat. Bagaimana kita mendapatkannya?. Tentulah islam mengajarkan kita tentang hal itu. Tiada lain hanya dengan ibadah kepada Allah.
Ketika kita disuruh beribadah, janganlah pemikiran kita hanya tertuju dengan rutinitas shalat, zakat, puasa, dan haji. Tidak saudaraku, ibadah lbih luas dari itu semua. Ketika kita belajar, itu bisa menjadi ibadah bagi kita. Ketika kita bekerja, itu juga ibadah. Bahkan seluruh kehidupan kita adalah ibadah ketika memang tujuan akhir kita untuk keridoaan Allah dan dengan niat yang ikhlas.
Dalam hadits diatas terdapat beberapa kenikmatan yang akan diperoleh manusia ketika akhirat menjadi obsesinya, yaitu:
1. Semua urusan lancar
Sungguh nikmat yang besar ketika kita dihadapkan dengan masalah, masa berlalu, tapi masalah itu belum terpecahkan. Dan suatu ketika masalah yang terus menghantui kita selesai dan telah dapat dipecahkan. Rasakanlah kebahagiaannya, rasakanlah kenikmatannya, ketika kita bingung dan berkerut dahi dan akhirnya masalah itu selesai.
Apatah lagi ketika ada masalah langsung dapat dipecahkan. Kita tidak banyak membuang waktu kita dan energi kita. Semua itu masih bisa kita simpan untuk mengharungi masa yang akan datang.
Orang seperti ini juga tidak akan berpikir negatif terhadap apa-apa yang diusahakannya. Dia tidak akan takut perdagangannya rugi, dia gak mikir jika dia gagal dalam pertandingan atau belajar, karena dia yakin bahwa Allah akan melancarkan urusnnya ketika obsesi terbesarnya hanyalah Akhirat.
2. Hatinya kaya
Banyak orang-orang besar yang merasa kalau dia sebenarnya adalah orang yang tidak mampu, sehingga hatinya tridak tenang. Banyak orang kaya yang tidak bisa tidur nyenyak karena takut hartanya dirampok. Itulah gambartan bagi orang yang akhirat tidak menjadi obsesinya. Tapi lihatlah, seorang ibu yang setiap hari bekerja dengan keras, dan hasil yang pas-pasan untuk kehidupan hari ini, mereka masih bisa tersenyum dan hidup mereka bahagia. Apa kuncinya? Ternyata hati mereka selalu dalam ketenangan dan mereka yakin Allah tidak akan pernah salah dalam memberikan rezeki untuknya. Mereka legowo menerima semua itu, tidak ada keluh kesah, tidak ada rasa suudzon terhadap sesama apalagi dengan Sang Khaliq yang Maha Pemberi. Dan lagi-lagi obsesinya tidak pergi kedunia, tapi obsesinya tetap ke akhirat.
3. Dunia datang dengan tertunduk
Apa yang anda rasakan ketika sesuatu yang anda tinggalkan (walaupun itu sangat anda cintai) tapi ternyata dia datang kepada anda dengan tertunduk?. Bahagia. Pasti itu yang anda rasakan.
Lihatlah wahai saudaraku,
Nikmat yang didapatkan oleh insan yang menjadikan akhirat sebagai akhir tujuan hidupnya. Sesuatu yang ditinggalkan datang dengan sendirinya dengan tertunduk, maksudnya dunia akan ikut dengan perintah kita. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Al-Jauzi Rahimahumullah “dunia itu ibarat seperti bayangan, ketika bayangan itu anda tinggalkan, maka ia akan membuntuti anda. Tapi jika anda berusaha mengejar bayangan, maka bayangan itu akan menjauhi anda”. Sungguh indah untaian katanya saudaraku. Apakah masih ada keraguan kita tentang hal itu?
walllahu ‘alam bishshowab

09 November 2008

BERKORBAN UNTUK KEMENANGAN

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang memberi perbekalan kepada orang yang akan berperang maka sungguh dia telah (turut) berperang. Dan siapa yang memberikan bekal bagi keluarga yang ditinggalkan (oleh orang yang berjihad) maka sungguh ia telah (turut) berperang.” (Muslim)
Sabdanya pula, “Jihad yang utama adalah perkataan yang benar (dalam riwayat lain: perkataan yang adil, pen.) di hadapan penguasa zalim.” (At-Tirmidzi dan Al-Hakim)
Hadits ini memberikan apresiasi kepada siapa saja yang memberikan kontribusi dan tadhhiyyah (pengorbanan) bagi kemenangan dakwah. Ternyata yang mendapat posisi sebagai orang yang berjihad tidak hanya orang-orang yang terjun langsung di medan laga melainkan semua pihak yang turut mensukseskan proyek dakwah dan jihad itu. Hadits ini juga membuka fikiran kita tentang betapa banyaknya peluang kita untuk bertadhhiyyah.
Pada dasarnya tadhhiyah adalah tuntutan dalam segala upaya untuk mencapai tujuan. Tadhhiyah tentu saja dibutuhkan bukan saja di kancah pertempuran fisik (qital) melainkan juga dalam jihad siyasi (jihad dalam kancah politik) yang tengah kita dengung-dengungkan hari-hari ini. Karena jihad siyasi kita dapat memperkokoh eksistensi dakwah dalam kehidupan. Semakin tegas perlunya pengorbanan dalam jihad siyasi ini jika kita mengingat hal-hal berikut ini:
Pertama, dakwah tidak boleh surut walau selangkah dan pantang surut walau sejenak. Karenanya para pecinta keadilan harus mengobankan apa pun yang dimiliki untuk eksistensi dakwah di segala lini termasuk lembaga legislatif. Dakwah istirahat berarti membiarkan kebatilan semakin merajalela. Karenanya seorang pecinta keadilan akan menjadikan dakwah sebagai agenda utama dan yang lainnya hanyalah agenda ikutan. Perhatikan, betapa para penyebar kerusakan dan pecinta penyimpangan serta kebusukan tidak pernah berhenti melakukan perusakan dan penghancuran tatanan kehidupan bangsa. Siang dan malam mereka membuat makar. Allah swt. menerangkan:
“Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak), sebenarnya tipu daya (mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya”. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan”. (Saba: 33)
Kedua, kemenangan dakwah memang berada di tangan Allah swt. Akan tetapi, tidak boleh dilupakan bahwa salah satu asbab kemenangan yang berada dalam jangkauan kemapuan manusia adalah kekuatan finansial. Makanya kita temukan dalam Quran berkorban dengan jiwa selalu digandengkan dengan berkorban dengan harta. Perhatikan firman Allah swt., “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (An-Nisa: 95)
Rasulullah saw. pernah mengoreksi Basir Bin Al-Khashashiyyah yang siap berbai’at kepadanya dan melaksanakan ajaran-ajaran Islam kecuali jihad dan shadaqah. Maka Rasulullah saw. megatakan kepadanya, “Tanpa shadaqah dan tanpa jihad? Lalu dengan apa kamu akan masuk surga?”
Ketiga, jihad siyasi bukan hanya berkonsekuensi musara’ah fil-khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) akan tetapi juga wajib melaksanakan mushara’atul-bathil (bertarung melawan kebatilan). Allah swt. menegaskan, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217)
Keempat, jihad siyasi bertujuan mengajak semua pihak agar mengabdi kepada Allah dan tunduk patuh terhadap segala aturannya; agar pengelolaan kehidupan bernegara dan bermasyarakat didasarkan pada wahyu ilahi. Karenanya, pasti akan ada orang-orang yang merasa terancam dengan dakwah kita. Dari awal dakwahnya, Rasulullah saw. sudah mendapat penentangan dan hadangan dari orang-orang yang merasa terganggu atau terancam oleh seruannya. Tapi Allah malah memerintahkan Rasulullah agar tetap tergar, istiqomah, dan senantiasa memegang risalah Allah. “Dan pegang teguhlah apa yang telah diwahyukan kepadamu karena sesungguhnya engkau berada di jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf: 43)
Kalau kita ingin menegakkan keadilan tapi tidak mau ada orang yang tidak suka kepada kita, lalu kita hanya menampilkan yang menyenangkan semua pihak, kita sebetulnya tidak sedang menegakkan keadilan. Rasulullah saw. sendiri diingatkan oleh Allah swt., “Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 67)
Tentu saja segala pengorbanan itu tidak akan sia-sia. Allah akan membeli segala yang dipersembahkan oleh orang beriman dengan surga. Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah: 111)
Sungguh besar kasih sayang dan penghargaan Allah kepada orang yang mau berkorban. Harta dan jiwa adalah milik Allah. Dia berikan kepada manusia sebagai modal dalam percaturan hidup. Yang mau mengorbankannya dalam rangka mencari rido Allah mendapat laba yang tidak tertandingi oleh harga apa pun: surga! Dan karenanya, pengorbanan dengan kedua hal itu dijadikan-Nya sebagai indikator adanya keimanan sejati. Firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang sejati (imannya).” (Al-Hujurat: 15)
Ummu Harom Bintu Milhan adalah salah satu contoh dalam tadhhiyyah. Saat Rasulullah saw. menceritakan bahwa dirinya bermimpi tentang sejumlah kaum Muslimin yang berperang melintasi laut, Ummu Haram mengatakan, “Ya Rasulullah, doakanlah saya kepada Allah agar menjadikan saya sebagai bagian dari pasukan itu.” Rasulullah saw. menyahut, “Engkau termasuk rombongan pertama.” Dan benar saja, jauh setelah meninggal Rasulullah saw. yakni pada masa Utsman Bin ‘Affan, Ummu Harom masuk dalam pasukan perang pertama yang diutus oleh khalifah ke Cyprus. Dan di negeri itulah wanita mulia itu mendapatkan penghargaan dari Allah swt.: mati syahid.
Abu Ayyub Al-Anshari –semoga Allah meridoinya- mengisahkan, “Setelah Allah memberikan kejayaan kepada Islam, para pengikutnya bertambah banyak, maka kami saling berbisik sesama kami, ‘Harta kita sudah ludes dan Allah sudah memenangkan Islam. Bagaimana kalau kita cuti sejenak dari jihad untuk mengurusi kembali urusan bisnis, ladang, ternak.’ Lalu mereka menghadap kepada Rasulullah saw. untuk mengajukan izin cuti dari jihad dan pengorbanan. Lalu turunlah ayat Allah swt., “Dan berinfaklah kalian di jalan Allah. Dan janganlah kalian mencampakkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195). Abu Ayyub selanjutnya menjelaskan, “Kebinasaan adalah bila kami terbelenggu dengan harta dan meningalkan jihad.”
Memperhatikan penjelasan Abu Ayyub itu kita dapat menyimpulkan bahwa ayat di atas ditujukan bukan kepada orang-orang yang sedang berpangku tangan bertopang dagu. Melainkan justeru kepada para sahabat yang telah habis-habisan berjuang, berdakwah, dan berjihad. Jadi pesan tegas ayat itu adalah memerintahkan kaum Muslimin untuk tidak berhenti melakukan pengorbanan. Maka kita pun menemukan dalam sejarah sikap mental yang teramat indah pada diri para sahabat nabi: siap berkorban dengan apa saja demi tegaknya kalimatullah.
Jika mencermati tadhhiyyah mereka yang tak kepalang tanggung itu, mudahlah kita memahami mengapa mereka mendapat kemenangan demi kemenangan dalam dakwah dan jihad. Di tangan mereka banyak hati manusia yang menjadi terbuka untuk menerima hidayah Allah swt. Mereka telah mempersembahkan apa pun yang mereka miliki. Lalu Allah pun menganugerahkan apa yang mereka inginkan.

Bekal pejuang sejati

Ada sebagian orang yang berputus harapan dalam perjuangan dakwah Islam, karena fenomena ketidakmampuan umat Islam dalam hal kekuatan material, seraya mengatakan: “Bangsa-bangsa Timur tidak akan mampu bangkit dan berpacu dengan bangsa-bangsa Barat, karena mereka tidak memiliki kekuatan fisik yang memadai untuk perjuangan mereka, seperti dana, sarana tempur, prasarana dakwah dan sebaginya. Lain halnya dengan Barat yang memiliki sejumlah kekuatan fisik dengan perkembangan teknologi yang begitu sangat canggih”.
Peryataan itu bisa benar tapi yang jelas banyak salahnya. Namun kita tidak dapat menyalahkan asumsi seperti itu, karenan mereka telah melupakan satu hal yang amat penting, bahwa ada kekuatan yang terpenting dalam perjuangan dakwah Islam, yaitu kekuatan spiritual; akhlak luhur, jiwa mulia, kebenaran akidah dan ideologi, pengetahuan tinggi, tekad sekuat baja, semangat pengorbanan, kesatuan fikrah -pemikiran-, kesetiaan rasional dan loyalitas yang proporsional, semuanya modal utama dalam perjuangan.
Seyogianya orang-orang Timur menyadari, bahwa sesungguhnya Barat telah merampas haknya dan menghancurkan hidupnya. “Jika mereka menyadari akan haknya tersebut, kemudian berusaha merubah diri sendiri, membangun kekuatan spiritual yang dahsyat dan membina keluhuran budi pekerti, niscaya sarana-sarana kekuatan fisik itu dengan sendirinya akan datang kepada mereka dari berbagai arah. Sungguh terlalu banyak lembaran sejarah yang membuktikan akan hal itu.”
Para pejuang dan aktifs dakwah sejati meyakini ini sepenuhnya. Keyakinan itulah yang mendorong mereka untuk terus mensucikan hati, menguatkan jiwa dan meluhurkan budi pekerti. Keyakinan itu pulalah yang mendorong mereka untuk terus berjuang menyebarkan dakwah, memahamkan umat manusia akan hakikat misi dan ideologi yang mereka seru, kemudian menyeru umat untuk turut membersihkan jiwa dan meluruskan kehidupan mereka. Keyakinan ini bukan suatu yang dibuat-buat mereka sendiri, tetapi merupakan taujih Ilahi dalam Alquran:
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu merubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.” Ar-Ra’d: 11 .
Bekal Aktivis Dakwah
Memang benar, sungguh luhur dan besar bekal dan kekuatan yang harus dimiliki para pejuang, aktivis dakwah ilallah; karena masalah-masalah yang dihadapinya pun demikian membutuhkan kekuatan spiritual -utamanya- dan kekuatan fisik.
Taklid buta, kerusakan hukum, penyimpangan kehidupan sosial, sikap-sikap hedonis yang telah akrab dengan masyarakat, merajalelanya isme-isme dan pemikiran destruktif yang begitu kuat mencengkram negeri ini, amburadulnya pendidikan, hubungan silaturahmi yang kacau; adalah sebagian dari sekian permasalahan yang dihadapi dakwah.
Akankah masalah-masalah kompleks tersebut dapat terselesaikan?
Mungkinkah?
Jika kita telah meyakini, bahwa masalah tersebut akan terselesaikan dan sangat mungkin, namun bilakah akan selesai?
Ya akhi, jalan ini amatlah panjang… sungguh panjang…
Para pakar ilmu sosial menyatakan, “Bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini akan menjadi kenyataan esok hari.”
Siapa yang menyangka sebelumnya kalau para ilmuwan akan sampai pada penemuan penemuan dahsyat seperti yang kita saksikan sekarang. Bahkan para ilmuwan itu sebelumnya tidak percaya, tetapi ketika hal itu terjadi mereka semakin yakin terhadap pernyataan dalam perspektif filsafat sosial itu.
Dalam perspektif sejarah, kebangunan semua bangsa di dunia selalu bermula dari kelemahan; sesuatu yang sering membuat orang percaya bahwa kemajuan uyang mereka capai kemudian adalah sebentuk kemustahilan. Tapi di balik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan dan ketenangan dalam melangkah, telah mengantarkan bangsa-bangsa lemah merangkak dari ketidakberdayaan menuju kejayaan.
Siapa yang bisa percaya sebelumnya, bahwa di tengah gurun pasir Jazirah Arab yang gersang dan kering kerontang itu akan memancar seberkas cahaya kearifan, di mana dengan kekuatan spiritual dan kemampuan berpolitik putra-putranya dapat menguasai semua kekuatan adidaya dunia?
Siapakah yang menyangka, sosok seperti Abu Bakar yang lemah lembut itu tiba-tiba saja mengirim pasukan untuk memerangi para pembangkang, pemberontak dan kaum murtad di Yamamah.
Siapa yang menyangka sosok-sosok pribadi yang dahulunya mengajar di surau-surau, tiba-tiba suaranya terdengar di seantero nusantara lewat mikrofon gedung parlemen.
Ikhwah fillah…
Walau demikian hebatnya cobaan dan tantangan yang harus dihadapi, walau demikian berat beban perjuangan ini, walau demikian besar biaya persiapan bekal dakwah ini, walaupun demikian panjangnya jalan dakwah ini, namun semuanya tetap harus dijalankan, harus diyakini, bahwa tak ada jalan lain untuk membangun kejayaan umat kecuali dengan dakwah ilallah.
Seorang pekerja, pertama kali harus bekerja menunaikan kewajibannya, baru kemudian boleh mengharap hasil kerjanya. Jika ia telah bekerja, berarti ia telah menunaikan kewajiban dan pasti kelak akan mendapat balasan dari Allah. Tak ada keraguan dalam hal ini, selagi syarat-syarat terpenuhi. Sedang masalah hasil, itu terserah kepada Allah swt. Boleh jadi peluang kemenangan itu datang tanpa terduga, sehingga ia memperoleh hasil yang sangat memuaskan dan penuh berkah.
Sementara bila ia tidak bekerja, ia akan mendapat dosa karena tidak berbuat, ia juga akan kehilangan pahala jihad, dan tentu saja dia sama sekali tidak akan mendapatkan hasil di dunia.
Allah menegaskan hal itu dalam firman-Nya:
“Dan ingatlah ketika suatu umat di antara mereka berkata: Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan keras? Mereka menjawab: Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa! Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” Al-A’raf: 164-165.
Ikhwah Fillah…
Mari kita dengarkan bersama senandung ayat-ayat Al Quran yang menggema pada segenap ufuk, yang memenuhi mayapada dan tujuh susun langit, yang membisikkan dalam diri setiap mukmin makna kebanggaan dan kemuliaan tertinggi.
“Sungguh Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman.” Al-Baqarah: 257.
Benar wahai para pejuang, benar, itulah panggilan Allah pada kita semua. Maka kita menjawab panggilan-Nya:
“Ya Allah, segala puji, segala syukur yang tiada terbilang hanya untuk-Mu. Engkau dan hanya Engkaulah Pelindung orang-orang beriman, Penolong orang-orang yang berbuat kebaikan, Pembela orang-orang tertindas, yang diperangi dalam rumah-rumah mereka. Sungguh terhormatlah orang yang bersandar pada-Mu, dan niscaya menanglah orang yang berlindung di bawah perlindungan-Mu.”
Karenanya, seyogianya kita tetap optimis dan yakin dengan janji-janji-Nya, serta tegar dan bersabar dalam menapaki langkah-langkah perjuangan sampai ke tujuan. Pesan Rasulullah saw. kepada para pejuang: “Bersabarlah, bersabarlah dalam barisan dakwah, dan jangan meninggalkan barisan dakwah, sampai kamu melihat ada kekufuran nyata dalam barisan dakwah itu.” Selain juga, tidak mudah mengisi kemenangan dan memimpin suatu negeri, tidak sesederhana yang kita mimpikan. Jangan karena tidak setuju dengan langkah dakwah, kita meninggalkan barisan dakwah, dan menggalang kekuatan lain. Negeri ini membutuhkan orang-orang yang siap berkorban dan bekerjasama dengan sesama pejuang dakwah, bahkan dengan siapa saja yang menginginkan kebaikan bagi negeri ini, karena negeri ini tidak mungkin dikelola oleh satu kelompok tertentu. Bersabarlah!
Dan dengan keyakinan dan kesabaran itulah Allah swt. akan menjadikan orang-orang beriman mampu memimpin umat manusia di dunia ini.
“Dan Kami jadikan dari mereka pemimpin ketika mereka bersabar dan mereka pun yakin dengan ayat-ayat Kami.” As-Sajdah:24
Kita sandarkan semuanya kepada Allah swt., kita tapaki langkah-langkah ini dengan penuh izzah -bangga diri- dengan identitas Islam milik-Nya:
Jangan panggil aku
Kecuali dengan seruan “Hai hamba-Nya”,
Karena itulah semulia-mulia namaku.
Islamlah ayahku,
Aku tak punya ayah selain itu
Biarlah mereka bangga dengan Qais atau Tamim
Selamat bekerja. Dan bersabarlah. Allah bersama para pejuang sejati.

Wallahu a’lam